sketsa-sketsa yang keras kepala

2/18/2005

Percobaan-Percobaan

Di sebuah negeri yang kerap berkabung, hiduplah seorang laki-laki yang sangat cerewet. Seperti umumnya orang semacam ini bukanlah pendengar yang baik. Sudah banyak masalah yang dia harus hadapi karena sifatnya tersebut. Banyak kawan menjauhinya karena dia selalu menyela kata-kata mereka. Beberapa di antara mereka bahkan menyakitinya. Ada yang membuatnya sakit hati dengan menyebutnya bermulut perempuan. Ada yang membuatnya sakit gigi dengan menonjoknya di pipi kiri dan kanan.

Laki-laki cerewet itu bukannya tak pernah ingin berubah. Suatu malam di masa kelas dua SMA dia bermimpi menjadi seseorang seperti Steven Seagal, jagoan yang pendiam, dingin, berbahaya, dan disegani. Keesokan harinya dia tiba-tiba menjadi sependiam pencuri di sekolah. Perubahan drastis itu justru menimbulkan persoalan dengan kawan-kawannya. Mereka merasa risih dan menuduhnya mencari perhatian.

Laki-laki remaja ini tentu merasa sedih dan kecewa. Dia telah mengorbankan banyak hal untuk percobaan ini. Setiap hari ia selalu merasa letih, mengantuk, dan mudah lapar. Ia juga kerap merasa tak berdaya. Pernah dia menangis berlama-lama dalam WC sekolah yang terkenal angker baunya, gara-gara tak bisa membetulkan salah seorang kawannya yang salah menyebutkan nama gitaris band rock populer masa itu.

Dia sempat berfikir untuk menjadi cerewet lagi, namun tak tahu bagaimana. Alasan apapun akan terdengar lucu bagi kawan-kawannya, yang pernah menyaksikannya mengomentari kapur tulis selama tiga jam penuh dalam keadaan sakit gigi akut. Untuk kembali cerewet tanpa alasan hanya akan membenarkan tuduhan mereka bahwa dia hanya memburu sensasi sesaat. Pada akhirnya si laki-laki muda menyerah dan meneruskan percobaannya dengan harapan mendapatkan ide dan peluang secepatnya.

Tak hanya di sekolah saja, si laki-laki cerewet juga mulai berubah diam di lingkungan rumahnya. Kebanyakan kawan sekolahnya adalah tetangganya sendiri. Dia tak ingin mereka menyebarkan kabar bahwa dia pembohong besar atau berkepribadian ganda. Untuk menghindari pertanyaan orang tuanya, dia terus menerus membaca setiap berada di dalam rumah. Saat orang tua kawan-kawan sekolahnya mengadukan perubahan sifatnya, orang tuanya menjawab dengan bangga:

“Dia baik-baik saja, kok. Pendiam? Memang nggak ngomong sebanyak dulu. Belajar terus, sih. Tapi itu baik, khan? Sudah berfikir dewasa barangkali.”

Tak lama kemudian dia bukan saja dianggap cari perhatian tapi juga sok rajin. Pada akhirnya, si laki-laki muda tak mempunyai seorangpun kawan. Setiap waktu istirahat dia selalu memilih menyendiri di belakang aula ketimbang bergabung dengan kawan-kawannya di kantin. Setiap pulang sekolah dia juga memilih pergi ke toko buku di depan halte bis untuk mencari bacaan-bacaan baginya yang cepat habis ketimbang mangkal bersama kawan-kawannya di bengkel langganan mereka.

Setelah satu tahun lamanya, kawan-kawannya sudah cukup terbiasa dengan sifatnya. Jumlah yang menuduhnya mencari sensasi juga berkurang banyak. Seiring dengan itu, nilai-nilainya di sekolah terus merangkak naik. Jumlah yang menuduhnya sok rajin menyusut banyak. Tak ada lagi yang menyebutnya penjilat pantat semenjak dia menolak menghafalkan undang-undang negaranya di depan kelas meski sang guru mengancamnya dengan pengurangan nilai sampai separuh. Namun dia tetap sebisu pencuri. Semakin lama semakin dia merasa kehilangan alasan untuk kembali berkata-kata.

Saat kelulusan tiba, dia mendaftar di sebuah universitas di seberang pulau. Tanpa kesulitan yang berarti, dia diterima di universitas tersebut. Hal pertama yang dilakukannya saat masuk kuliah adalah mencari letak stasiun radio kampus. Di sana dia melamar menjadi anggota tim penyiar. Pengurus radio yang ragu menyuruhnya untuk menunjukkan kemampuannya secara langsung. Dan semenjak siaran percobaannya yang luar biasa bising, dia tak pernah mau berhenti bicara. Apapun resikonya.

Dia menjadi begitu populer di kampus itu. Pandai berbicara sekaligus berpengetahuan luas. Tak hanya kawan-kawan sesama mahasiswanya yang mengaguminya. Semua dosen juga mengakui kemampuannya. Saat dia berhasil meraih gelar kesarjanaannya, dia langsung mendapat tawaran dari kampusnya untuk menjadi pengajar dan langsung meneruskan studi lanjut ke sebuah negeri asing.

11. 25
“Jika memaksa berangkat, kita akan tiba di pantai itu pada saat matahari menenggelamkan apinya. Itu tentu menyenangkan. Namun kita harus bermalam. Aku tak punya waktu sebanyak itu. Masih banyak hal yang harus kuselesaikan ... seperti mengemasi dokumen-dokumen dan membeli barang-barang. Dan haruskah kau kecewa dengan toko buku?

12.03
“Jemputlah aku di tempat biasa”, pesanku 1 menit yang lalu sambil mengunci pintu apartemen. Ketika aku sampai di bawah, dirimu sudah celingak-celinguk di dalam sebuah taksi biru. Seperti biasa kau menyapaku dengan membuka tas tenteng yang kau pangku, mengambil sebuah tas plastik putih dari dalamnya, dan mengeluarkan setumpuk sandwich dan satu kotak kopi dingin.
“Okay, sekarang aku jelaskan kembali apa yang tak kau dengar lewat telepon tadi. Tadi malam aku bergadang di pasar basah. Minum sekaleng bir dan satu liter coca cola. Baru pulang pukul empat. Tak bisa tidur sampai pagi ... Apakah kau membawa aspirin dan air mineral?”

13.12
Ini sopir taksi kesekian yang kau bikin melirik ke belakang. Dan ini kesekian kalinya aku malu dengan sentimentalismemu. Memelukku, mencium bahuku, menyandarkan kepala di dadaku, memilin-milin rambutku, dan seterusnya. “Kenapa kita tak bercakap-cakap saja?”

13.15
Entah karena apa, mal ini membenci orang-orang yang masuk dengan membawa tas-tas besar. Apalagi tas ransel. Namun, tak kalah anehnya, mal ini mempunyai beberapa penjaga pintu yang mendapat bonus setiap akhir bulan jika tak lalai untuk tersenyum kepada orang-orang yang keluar dengan tas-tas besar. Apalagi tas plastik.

Mal aneh. Bagaimana menurutmu? “Hei, di mana kamu? Kenapa kau selalu lambat seperti siput?”

13.23
Toko buku di lantai 5 mal ini sangatlah lengkap. Paling tidak yang terlengkap di kota ini. “Ada dua buku yang kucari. Sebuah memoar penulis besar dan sebuah petunjuk cara mencegah bonsai mekar. Bantu aku mencari yang kedua. Mau? Ya atau tidak? Mau tukar? Jangan diam saja! Baik, baik, maaf, lupakanlah, ayolah, jangan merajuk seperti itu.”

14.50
Sudah empat tumpuk buku kudekap. Tak satupun berisi memoar. Buku yang pertama adalah kiat jitu dalam berinvestasi saham. Yang kedua tentang brigade SS Nazi. Yang ketiga adalah seni berperang ala Sun-Tzu. Yang terakhir adalah gaya berpakaian muda-mudi Paris di tahun 60-an. Keadaan tak jauh berbeda tampaknya. “Apa ini?... Jane Eyre, Kumpulan Soneta Italia, Anna dan Sang Raja ... Marquiz de Sade?!”

15. 15
Segelas kopi dan sebungkus rokok akan membantu.

***

Di sebuah negeri asing, hiduplah seorang perempuan yang luar biasa pendiam. Pada waktu keluar dari rahim ibunya, dia tak mengeluarkan sedikitpun suara. Dokter muda yang membantu kelahirannya harus menusukkan jarum tiga kali pada pantatnya untuk membuatnya merengek. Saat berumur dua tahun, dia belum mampu berbicara. Orang tuanya sempat menganggapnya bisu.

Namun pada saat berumur dua tahun setengah dia tiba-tiba berkata-kata, meski itu tak pernah lebih dari satu-dua kata. Orang tuanya lalu membeli sebuah radio transistor kecil dan mewajibkan si gadis kecil untuk membawanya kemana-mana. Mereka berharap dia bisa belajar banyak kata-kata baru darinya. Harapan itu tak sepenuhnya gagal. Si gadis mengetahui banyak kata, namun tetap enggan membuka mulutnya.

Sifat pendiam bukanlah sifat yang mudah ditemui di negerinya yang hangat. Sejak kecil, ia sudah diperlakukan seperti benda bertuah. Kedua orang tuanya berulang kali mengundang pendeta-pendeta untuk memimpin kebaktian di rumahnya untuk mengusir penguasa-penguasa langit yang menyelimuti anak perempuannya dengan ‘kesusahan hati’. Tak ada yang berubah selain kekayaan orang tuanya yang kian menyusut akibat biaya-biaya kebaktian yang tak kecil.

Pada saat si gadis berusia tujuh tahun, orang tuanya mengirimkannya ke sekolah dasar. Mereka sempat bersitegang dengan kepala sekolah yang menyarankan mereka untuk memasukknya ke sekolah anak-anak idiot. Mereka menantang kepala sekolah untuk menguji anak mereka dengan soal-soal penambahan, pengurangan, dan menulis. Si gadis sanggup menyelesaikan semua ujian yang diberikan kepala sekolah dengan sempurna.

Si gadis sempat mengalami kesulitan besar di masa kelas satu dan dua. Pasalnya dia harus membaca keras-keras di kelas. Gilirannya selalu ditunggu-tunggu. Tak jarang seluruh kelas bertepuk tangan ketika si gadis berhasil menyelesaikan bacaannya. Selepas kelas satu dan dua, penderitan gadis itu berkurang jauh. Hanya dua pelajaran yang terus mengganggunya, yaitu bahasa dan agama; dia harus melafalkan berbagai puisi-puisi dan doa-doa. Uniknya, si gadis itu mendapatkan nilai-nilai yang cukup bagus dalam pelajaran-pelajaran tersebut, terutama bahasa. Dia pandai menulis prosa, yang, uniknya, mengalir dan cenderung panjang.

Ketika penjurusan di sekolah lanjutan tingkat atas tiba, dia terlempar ke dalam kelas bahasa. Kelas tersebut dijejali oleh perempuan-perempuan yang bermimpi menjadi penyiar televisi, artis, humas, guru bahasa asing, dan pramugari. Jika penduduk negeri itu bisa disebut sebagai rakyat bising, penghuni kelas tersebut layak dinobatkan sebagai pakar-pakar kebisingan. Si gadis tak mempunyai masalah dengan itu. Semenjak kecil, dia terbiasa mendengarkan, bahkan menikmatinya. Semakin banyak yang bisa didengarkan, semakin senang dia.

Sayangnya, pada saat yang sama si gadis mulai merasakan ketertarikan terhadap pria. Dia sering cemburu dengan kawan-kawannya yang begitu mudah mendapat pasangan lewat tutur kata mereka yang lancar dan memikat. Sampai pada suatu pagi salah seorang gadis yang paling centil di kelas datang terlambat. Setelah marah-marah sebentar, si guru mengizinkan si centil masuk. Dengan terburu-buru si centil berjalan menuju bangkunya, duduk, dan membuka bukunya. Si guru tengah bersiap-siap untuk melanjutkan pelajaran kembali saat si centil menjerit histeris seperti hantu perempuan!

Si guru tak berhasil mengorek keterangan dari si centil yang pucat pasi. Tak ingin membuang lebih lama waktu, beliau meneruskan pelajarannya setelah menyuruh si centil pergi ke unit kesehatan sekolah. Lewat bisik-bisik selama pelajaran berlangsung seluruh murid mulai mempelajari apa yang sesungguhnya telah terjadi. Konon, pada saat si centil siap dengan bukunya, tiga tepukan mendarat di punggungnya. Terkejut nian si centil ketika menemukan bahwa tepukan itu berasal dari si gadis pendiam yang duduk di belakangnya. Hampir pingsan ia saat si gadis pendiam tiba-tiba menjelek-jelekkan si guru dan memuji keberaniannya dengan cerewet.

Ketika pelajaran selesai, si gadis pendiam bangkit berdiri dan menyapa beberapa kawannya dengan gaya akrab. Namun tak satupun menjawabnya. Sebagian dari mereka bahkan cepat-cepat menjauh. Dia mencoba bertanya kepada yang lain. Sama saja. Dia berpindah dari satu teman ke teman lainnya, seperti orang kesetanan. Semua menjadi semakin ketakutan. Mereka yang berada dalam radius dua meter dari bangkunya bermigrasi ke bangku yang lain.

Keesokan harinya, si gadis menjadi pendiam kembali, bahkan lebih diam dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia masih mengeluarkan dua-tiga kata, sekarang tidak sama sekali. Teman-temannya semakin yakin dengan dugaan mereka bahwa si gadis itu gila. Hanya orang gila yang bisa berubah secepat itu, dari diam, ramai, dan diam lagi. Berita itu begitu cepat menyebar ke penjuru negeri.

15. 45
Aku tak tahu apa ada kedai kopi di jalan utama seperti ini. Kenapa tak pergi ke kedai kopi langgananmu, tempat di mana aku biasa menikmati kecerewetanmu? Sudah tiga kilometer kita berjalan. Tak kurang dari empat cafe telah kita temukan. Tapi ... “Bukan seperti ini tempat minum kopi di negeriku!” Gerutumu. Lucu, kamu selalu marah-marah setiap menemui cafe berinterior kosmo, indoor, ber-AC, dan melarangmu merokok. Aku sebal sebenarnya. Kakiku sudah seberat balok. Tapi sebenarnya aku juga tak ingin kita berhenti di kafe-kafe tadi. Tanpa rokok, kerjamu hanya marah-marah.

16.10
Mungkin kamu sadar bahwa tak akan ada tempat minum kopi seperti yang kau inginkan di sepanjang jalan utama ini. Kamu harus berselingkuh dengan salah satu gang kecil yang terjepit gedung-gedung raksasa ini. Mungkin kamu tiba-tiba ingat di tempat macam apa kedai langgananmu berada.

16.13
Secangkir kopi hitam dan segelas teh susu. Rokokmu yang pertama. Untuk pertama kalinya dalam hari ini aku merasa lega. Aku membetulkan tempat dudukku; siap mendengar ocehanmu untuk terakhir kalinya. Namun kelegaan itu terbang saat kulihat kamu bersandar ke punggung kursi, mengeluarkan buku-buku yang baru kita beli, dan mulai sibuk membolak-baliknya.

16. 17
Sudah lima menit berlalu. Sudah batang kedua. Kini kamu bahkan tak bicara sama sekali. Aku sudah ingin menangis rasanya. Benar rupanya. Meninggalkanku bukanlah hal yang pelik bagimu. Bukankah aku hanyalah sekedar pilihan yang harus kamu pilih? Sebab hanya padaku kamu bisa berbicara sepuas hati? Sebab hanya aku yang bisa mengerti bahasamu di sini? Dan, beberapa jam lagi, kamu akan mempunyai berjuta-juta pilihan kembali?

16.22
Kamu bahkan tak peduli berapa banyak air tersisa dalam gelasku. Bangkit, membayar, memberiku isyarat, dan melangkah pergi. Sampai berapa lama kamu memperlakukanku seperti penderita cacar menular? Bibirmu selalu mengepungku, namun tubuhmu selalu menjauh. Aku harus berlari-lari kecil untuk menyusulmu. Andai saja aku mempunyai keberanian untuk membuatmu marah, aku akan berhenti. Aku akan merajuk. Tapi akankah kamu berpaling dan peduli?

16. 45
Aku sempat berfikir kamu akan segera menghentikan taksi sesampainya kita di jalan utama kembali. Dan cuma seperti itu perpisahan kita.
Kusibak tirai jendela. Dari tempat ini aku bisa melihat dengan jelas toko buku yang kita kunjungi tadi. Tiba-tiba tirai itu tertutup kembali. Kamu sudah di sampingku, tanpa aku tahu.

17. 15
Entah sudah berapa kata yang kuhamburkan. Mulutku seakan tak bisa lagi kukuasai. Aku berteriak. Aku mencericau. Aku mengeluh. Aku menyumpah. Aku memuji. Aku tertawa. Aku mencobanya kembali. Sedang kamu hanya membisu. Bibirmu mati di bawah rahangku. Apakah kamu juga sedang mencoba sesuatu?

No comments:

Post a Comment