dia tertidur di kaki musuhku
kemudian merambat ke perutnya
dan kau tahu apa yang sempat
dilewatinya
sebuah bentakan harimau
sekotak kesimpulan
dari penungguan panjang
kini aku bisa berduel
dengan semacam alasan
musuhku berseru,
aku akan mendahului menyerang
mulai dari sekarang
sebab kau punya pedang
yang lebih panjang
aku berlari ke kamar terdekat
menyelamatkan diri
mengintip-intip keluar
di manakah musuhku mengintai
dua-tiga jam berlalu panjang
aku tak bisa menunggu
lebih lama lagi
meski mati nanti
tertusuk musuhku
yang menunggu
di balik pintu
brak!
tak ada bacokan,
tak ada tusukan,
musuhku menghilang!
seperti dikejar topan
aku berlari ke kamar bibiku
di mana kusimpan pedangku
yang panjang
lalu aku kembali
dengan percaya diri
kulihat musuhku datang
terengah-engah
katanya, aku pergi untuk sesuatu
tubuhku sudah tolak segala besi
ayo, cobalah tepat di ulu hati
tak kuturuti
kubacok lehernya
tiga kali
dua di kanan
satu di kiri
tak berdarah
tak terkelupas
setan alas!
secepat kilat
kuingat
sebuah mantra sakti
tetangga tuaku
tiga puluh sekian tahun lalu
algojo BTI dan Gerwani
di kecamatan merahku
cres! cras!
tersenyum kecut dia
kehilangan seperempat
percaya diri
namun,
sesudah 80 sayatan
tanpa balas, tanpa lawan
ajaib,
belum luruh ke tanah
belum putus dari badan
hanya darah
hanya darah
seperti menebang beringin tua
pasti tumbang
namun pelan
lalu dia datang
dengan sepucuk pistol di tangan
kenapa tak dari tadi, sayang?
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment