sketsa-sketsa yang keras kepala

3/27/2006

berita baik akhir2 ini

http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=217824

Sabtu, 25 Mar 2006,
Hoa Kiau Muda Kesampingkan Latar Belakang Etnis

EMPAT cerpenis muda kemarin duduk lesehan di Little Theatre kampus UK Petra. Mereka adalah Stefanie Hid, Stefanny Irawan, Dewey Setiawan, dan Lan Fang. Para penulis yang tergabung dalam cerpenis Hoa Kiau Muda ini tengah mengelar dialog bertema Latar Belakang Etnis dan Pengaruhnya Bagi Seorang Penulis Cerpen.

Dialog itu diikuti peserta dari IAIN, Unair, serta beberapa mahasiswa Sastra Pertra. Mereka duduk membentuk setengah lingkaran mengelilingi para pembicara. "Dialog ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan dari masyarakat tentang pengaruh etnis bagi penulis cerpen. Idenya mengambil dari Pramodya," ujar Esther H Kuntjara Ph D, Ketua Panitia Hoa Kiau Muda Menulis

Esther menambahkan, meski yang hadir adalah penulis keturunan, tapi tulisannya mengalir tanpa ada kesenjangan. "Jadi unsur etnis mulai tidak berpengaruh lagi bagi mereka. Mungkin Lan Fang yang masih sedikit memiliki perasaan etnis itu," katanya

Ketika ditemui Jawa Pos, Lan Fang mengatakan, "Aku tidak memungkiri bahwa aku cinta etnisku. Tapi dalam prosesnya kemudian berkembang. Aku tulis tentang lingkungan dil uar aku, disamping itu aku sangat Asia, karena budayanya eksotik," katanya.

Dalam cerpennya yang berjudul Perempuan Abu-Abu Lan Fang ingin menonjolkan keseimbangan serta kejujuran. "Ngapain sih ngomongin orang, toh kita sendiri tidak sebaik yang diomongin," ujarnya.

Lan Fang mengaku beruntung karena tidak mengalami kesulitan dalam menerbitkan cerpen-cerpennya. Meski sempat vakum selama lima tahun karyanya banyak yang mendapat penghargaan. "Cerpen pertamaku diterbitkan Anita Cemerlang tahun 1986. Mungkin penerbitnya sudah tutup sekarang," akunya.

Sementara itu Stefanie Hid mengakui ketertarikan dalam dunia cerpen berawal dari pengalaman hidupnya. "Awalnya saya mengalami banyak konflik dalam hidup. Dari sinilah kemudian coba kutuangkan dalam bentuk tulisan," jelas mahasiswi Petra ini.

Salah satu karyanya yang telah diterbitkan adalan ceprepen berjudul Majenun. "Majenun berisi tentang perempuan yang sudah anti laki-laki. Karena menurut majenun, laki-laki itu membingungkan. Justru hidupnya lebih sukses ketika tanpa laki-laki," tuturnya.(san)

No comments:

Post a Comment