akhir-akhir ini ada sebuah fenomenon yang menyita perhatianku. ini tentang radikalisme orang-orang pindahan. sebenarnya bukan hal yang baru. orang sering membicarakannya. tapi mungkin jarang dibahas secara khusus.
orang-orang pindahan yang kumaksud adalah orang-orang yang masuk ke komunitas atau kepercayaan baru. seperti orang jawa yang masuk komunitas orang tionghoa karena dinikahi orang tionghoa atau sebaliknya. seperti juga orang kristen masuk islam atau sebaliknya.
radikalisasi yang kumaksud adalah penguatan kepercayaan atau pembelaan dari orang-orang pindahan itu terhadap komunitas atau kepercayaannya yang baru. seringkali radikalisasi ini kebablasan. akhirnya ada orang jawa yang lebih 'cina' dari orang cina sendiri. orang pindahan kristen yang lebih 'kristen' dari orang kristen sejak kecil.
contoh untuk kasus yang pertama adalah nenekku sendiri. nenekku adalah orang jawa dalam pengertian umum. terus dinikahi kakekku, cina perantauan dari suku hokkien. semenjak itu nenekku berubah menjadi cina fundamentalis. lebih fundamentalis dari tacik-tacik pasar atom. kerjaannya menyanjung orang cina dan meragukan orang jawa. kalo ada anak atau cucunya yang mau menikahi orang jawa, nenekkulah yang justru paling kuat resistensinya...hehehe...
contoh yang kedua aku punya lebih banyak. tapi baiklah kupilihkan satu yaitu kasus mbak sulami penjual rujak di desaku. mbak sulami ini sejak kecil sampai dewasa bergama islam. menikahpun dengan pria islam dan secara islam. suatu saat mbak sulami sekeluarga masuk kristen dan menjadi anggota gereja di kecamatanku. semenjak itu mbak sulami berubah menjadi kristen fundamentalis. jauh lebih 'kristen' dari mereka-mereka yang kristen dari sejak lahir. tiap nguleg rujak selalu menceramahi para pembeli dengan konsep kasih lah, penebusan lah, umat pilihan lah, dan lah lah lainnya.
kadang-kadang orang-orang pindahan ini dirasakan mengganggu. over, gitu. tak jarang orang mencercanya. yang kristen tas-tasan lah. yang cina gosong lah. macam-macam pokoknya.
aku tak tertarik membahas soal apakah mereka layak diperlakukan seperti itu atau tidak. apakah mereka yang benar. apakah para pencela itu benar. tidak, tak menarik sama sekali bagiku. yang aku lebih tertarik adalalah mengetahui apa penyebab mereka bisa berubah seekstrim itu.
aku sudah berusaha mengeksplorasi hal ini di "hoa kiau yang gembira". tapi nggak banyak sich. cuma satu paragaraf, yaitu saat si narator mendeskripsikan istrinya. karakterisasi si istri itu semua karakter yang aku temukan dalam diri nenekku.
aku berharap aku bisa menggarap isu ini secara khusus dalam satu cerita. cerpen atau, mudah-mudahan, novel. apalagi hari-hari ini aku terus dihantui oleh isu itu. aku juga menemukan persilangan-persilangan baru. contoh: orang jawa islam dinikahi orang cina kristen (tantenya si pipin).
begitu dulu untuk hari ini.
sketsa-sketsa yang keras kepala
6/13/2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment