sketsa-sketsa yang keras kepala

10/05/2007

belum bisa menyusulmu

Arun Meni, memang betul kesunyian ini tidak mudah. Seringkali menjengkelkan juga. Tapi kepuasan terus berteriak setiap kali mengingat bahwa ini untuk sebuah kepercayaan. Kepercayaan? Betapa remehnya bagi hati yang kanak; betapa mengerikannya bagi hati yang menua. Hati membuih, menenggelamkan sepi di luar.

Jalan ramai, Arun Meni, tak lebih baik. 5 tahun kuhabiskan mengumpulkan bukti. Keramaian mengepung dari segala arah dan setiap waktu. Tak bisa menyuap keraguan. Tak bisa duduk satu meja dengan diriku semdiri. Pada putaran akhir meledak kesunyian. Hati membakar, mendebukan sorak-sorai di luar. Letaknya di dalam. Yang satu ini sungguh menyesakkan.

Kesunyian ini memang tak mudah, namun penuh kelegaan. Sebab tahu pilihan kulingkari sendiri. Dan tahu harga kutentukan sendiri. Bangga aku mau membayarnya. Tahu aku mencintaimu sekuat remaja. Maka, jika kamu bisa menemukan aku di balik setiap kegagalan, berbahagialah. Mudahkan murkamu, perhebat penebusanku. Merangkaklah, berdirilah, melangkahlah, berlarilah dan terbang kencang-kencang!

Sudah sebesar apa kamu sekarang? Bagaimana ternyata wajah malaikat? Salam untuk seluruh kenalan barumu. Jangan lupa memberitahu bunga apa yang kau suka untuk bulan depan.

No comments:

Post a Comment