jika saja ada suatu mekanisme biologis yang membuat kita langsung sakit gigi setiap berfikir dan bertindak bodoh, kita tak akan pernah terjerembab terlalu jauh. dengan demikian perasaan tergelap yang dikenal dalam pengalaman manusia hanyalah kekecewaan, bukan ratapan. tentu saja aku sedikit melebih-lebihkan di sini. jika tak ada fisikawan yang sanggup membelah gelombang dan garis dari sebilah cahaya, tentu aku tak akan berharap mampu membagi dunia yang jauh lebih abu-abu ke dalam petak-petak. yang ingin kutekankan adalah bagaimanapun juga keduanya adalah 2 pengalaman yang berbeda. jika tidak, tentu manusia tak akan merasa perlu menciptakan 2 kata.
bagiku sendiri kekecewaan selalu membawa dalam ranselnya sebungkus dendam. adalah penghinaan bagi pengalaman kemanusiaan kalian jika aku harus menguraikan apa yang bisa kalian lakukan dengan energi yang penuh vitalitas ini. yang pasti kalian tak akan terlalu menentangku jika kusebutkan perbaikan sebagai salah satunya. tapi bagaimana dengan ratapan? banyak yang bisa kalian harapkan, sebenarnya, tentu saja jika kalian tak merasa terlalu dangkal dengan semesta benda-benda seperti selembar sapu tangan, sebungkus tisu, berkaleng-kaleng bir dingin atau bahkan sebuah alkitab. demikianlah ketidaktahuan akan menyakiti kalian sebagai hangover sesudah malam yang gila, bukan sebagai muntahan di pundak atau paha kawan-kawan sebagai peminum amatir.
sayang sekali ketidaktahuan justru menjanjikan dan bahkan memberikan keamanan dan kenyamanan, 2 dari sedikit hal yang paling manusia buru di muka bumi. dengan tidak tahu kita tak perlu dihantui pertanyaan-pertanyaan profan di setiap masa melamun tiba. dengan menjadi gelap kita tak perlu berbeda dengan banyak orang dan menerima perlakuan yang cukup menyebalkan. begitulah sering kita dengar orang demi orang mengutuki hari di mana mereka pertama kali menerima pencerahan. tapi aku cukup yakin kutukan semacam itu tak pernah mencapai derajat ketulusan yang cukup tinggi. seperti keluhan ibu kepada tetangganya tentang anaknya yang tak mau belajar tetapi selalu juara 1 di sekolah. rasa bersalah dan apologia buruk kelas menengah.
banyak alasan yang bisa diangkat. tapi salah satu yang paling manusiawi dan, karenanya, paling meyakinkan bagiku adalah penderitaan dalam kesadaran, apapun derajatnya, jauh lebih tertanggungkan. oleh sebab yang sama manusia takut pada tempat yang gelap atau malam hari. apa yang lebih buruk daripada merasa menderita tanpa tahu sebabnya? apa yang lebih menyebalkan dari gigitan nyamuk saat listrik mati?
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment