sketsa-sketsa yang keras kepala

5/15/2008

dari foto

di sela-sela kekacauan ini aku menyempatkan diri untuk mengumpulkan foto-foto lama yang tercecer di sana-sini. terutama dalam mailbox. kiriman kawan-kawan di masa lalu. gambar-gambar yang baik. jauh lebih bagus dari waktu pertama kali pertama kali melihatnya. selalu seperti itu. aku tak tahu persis kenapa. tapi mungkin karena keadaan fisikku tak semakin membaik dengan bertambahnya usia. jadi seburuk apapun keadaanku di foto-foto itu, itu masih lebih baik dari yang sekarang...hehe.

bukan dalam semangat self-pity, sejak remaja aku sudah sadar bahwa kerupawanan tidak berada di pihakku. saat masa itu menjelang, segala kelucuan dan keimutan kanak-kanak yang pernah dipuja orang tua, saudara, kawan dan tetangga hilang tak berbekas. dan aku tumbuh jauh lebih cepat dari kebanyakan kawan sebayaku...alias cepat tua...haha. jika ada yang mengatakan bahwa aku tumbuh lebih baik, itu adalah suara minoritas absolut. suara orang berseru-seru di padang gurun. satu di antaranya adalah kawan kuliahku dulu. katanya aku dulu dekil dan bau namun sekarang lebih parlente dan baunya lebih manusiawi...haha. yang lain adalah tukang potong rambut langgananku di depan balai desa. kumisnya tebal seperti orang arab tapi sukanya mencubit-cubit putingku sambil mendesis-desis tak jelas. katanya aku tampak jauh lebih muda dari usiaku. sungguh, aku lebih memilih untuk percaya pada suara mayoritas.

aku tak akan munafik dengan mengatakan bahwa kerupawanan itu tidak penting gara-gara aku tak memilikinya. jika boleh memilih, tentu aku ingin memilikinya juga. dalam kehidupan sehari-hari aku melihat bahwa hal itu banyak membantu pemiliknya baik dalam hal bertahan hidup dan hubungan sosial. berbahagialah mereka yang memilikinya dan semoga dapat memanfaatkannya demi kesejahteraan umat manusia...hahaha. tapi aku juga menyadari bahwa kelemahan dalam satu hal bisa tertopang dalam hal lain. semua memiliki modal untuk bertahan dan berkembang. seperti situasi multiple intelligence..lah. dan hari demi hari aku belajar untuk mengembangkan apa yang kumiliki.

tapi, jika ada yang tertarik bertanya lalu apa kekuatanku yang utama, jujur aku sendiri tak tahu pasti sampai sekarang...hehe. jika aku pernah menyampaikannya, itu pasti dalam rangka wawancara kerja, beasiswa, dan semacamnya. aku tak punya banyak pilihan dalam situasi-situasi semacam itu. mungkin benar kata sebagian orang bahwa mengenali diri sendiri adalah pekerjaan seumur hidup dan, bahkan, sesudah mati.

No comments:

Post a Comment