hal menulis itu seumpama kerajaan sorga. begitu jelas di masa susah, terabaikan di masa senang. paling tidak demikianlah yang kurasakan. saat melankolisme laten tengah menyerang, entri demi entri memasuki ruangan. namun ketika hati tengah menetap di atap dunia, kata-kata berkemas-kemas pulang ke dalam. tentu ini tak berlaku untuk seru sekalian alam. menurut sugar mill, misalnya, masa luruhnya adalah kala hidupnya terbebas dari dunia tengah, dunia nyaman, dunia mediokritas. jadi bisa ketika gembira sekali atau hancur-lebur-luluh-lantak-tak berdaya-berdarah-darah-halah-halah-halah.
sebenarnya sudah cukup lama kusadari masalah ini. pernah bangga juga sembari curiga bahwa ini adalah tanda-tanda bakat hahaha. bagaimana tidak, siapakah penulis besar yang hidupnya riang-gembira? o, sungguh tak banyak. sungguh, menulis adalah pekerjaan tersedih di dunia. dan orang yang tahu tentang hal ini dan tetap melakukannya tentu jauh lebih menyedihkan hehehe. yang bertelinga hendaklah mendengar! yang berekor hendaklah kembali ke belukar! namun setelah melihat situasi diri dan tulisanku yang tak kunjung memanjat, dan bahkan kini berputar-putar di ruang terapi yang diusahakan terdengar lebih gagah dengan sebutan 'pembangun sebuah dinasti', aku mulai berubah pikiran. jangan-jangan ini adalah tanda ketidakprofesionalan, atau, yach, kebebalan saja.
apa penyebab ketergantungan pada cuaca ini? mungkin karena kegembiraan itu tak memberi waktu henti sementara ini adalah hal yang cukup mutlak dalam dunia tusuk-menusuk keyboard. apakah aku akan menghentikan kegembiraanku dan kemudian sibuk mencari komputer atau pena? tentu aku akan meneruskan kesenangan itu sampai titik leburnya. selain itu, banyak pekerjaan yang bisa kuselesaikan di masa-masa semacam itu. sebaliknya, kesedihan menciptakan begitu banyak rumah singgah. susah menguap, apalagi bekerja. di saat seperti itulah bercermin dan mencatatnya menjadi demikian menggoda.
ada penjelasan lain yang lebih menarik dari sugar mill, atau lebih tepatnya dari film yang dia tonton akhir pekan kemarin. demikian kira-kira kutipannya:
"pain is easy to write. in pain we are dreadfully individual. but what one can possibly write about happiness?"
saat sedih biasanya aku memilih untuk sendiri dalam artian harafiah maupun kiasan, situasi yang sangat mendukung bagi kegiatan tulis-menulis. sementara dalam kegembiraan aku selalu gatal mengeluarkan motor dan menyapa orang-orang sedunia. apa enaknya senang sendirian? demikian kata orang-orang. dan mungkinkah aku menghadap kertas sementara kawan-kawan mengangkat gelas? gan bei!
begitu. kurang meyakinkan? mungkin karena aku tengah gembira akhir-akhir ini. tapi kok bisa menulis? mungkin karena aku tengah sedih akhir-akhir ini. kok kurang meyakinkan? mungkin karena aku sedang abu-abu. loch, katanya buta warna? mungkin karena aku terlalu bernafsu memukul mukamu dengan batu.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment