sketsa-sketsa yang keras kepala

8/09/2008

minggu pararel

ini minggu yang aneh, seperti minggu-minggu lainnya hehehe. semakin hari semakin tipis kepercayaanku pada dikotomi; sulit percaya jika aku tengah produktif itu berarti aku tak bermalas-malasan; tak dapat menerima begitu saja jika aku tengah suntuk itu berarti aku tak bersenang-senang; tak bisa memahami bahwa jika aku tenang itu berarti aku tak khawatir. tidak. sekali-kali tidak. bukan maksudku untuk memperumit hal yang tak rumit. ya, aku sempat curiga bahwa ini satu dari sekian masalah kepribadian yang aku punyai hehehe. namun aku merasa lega setelah menubruk beberapa literatur yang mendukung keraguanku. well, after all, am not that bad hahaha.

1 atau 2 tahun yang lalu aku pernah menulis di jurnal ini dengan mengkutip beberapa penelitian psikologi bahwa kegembiraan dan kesedihan ternyata bukan dua sisi dari mata uang yang sama. keduanya adalah dua entitas independen yang tak mempengaruhi satu sama lain secara langsung. dengan demikian aku betul-betul bisa gembira dan sedih sekali dalam waktu yang bersamaan. beberapa hari yang lalu ketika tengah membolak-balik situs richard dawkins aku menemukan cuplikan video dari kuliah umum helen fisher, seorang antroplog kondang yang mempunyai keahlian akademik dalam bidang cinta. nah, loch. eh, serius, nech. ternyata ada loch ilmu dan penelitian tentang cinta. ada yang tertarik untuk s3 di bidang ini? hehehe. anyway, dalam salah satu artikelnya fisher menyebutkan bahwa ternyata lawan dari cinta itu bukan benci. seperti halnya kegembiraan vs kesedihan, keduanya adalah dua keping mata uang yang berbeda. jadi frase populer seperti "benci tapi rindu" ternyata valid secara ilmiah dan bukannya kecengengan penyanyi indonesia atau sopir truk belaka, seperti yang kerap disampaikan orang-orang sinis.

okay, cukup landasan teorinya. minggu ini aku tak produktif sekaligus produktif. pilot project penerjemahan di ILC tak bergerak maju. artikelku tentang bram stoker's dracula tak tersentuh. persiapan studi lanjut jalan di tempat. hari kamis malah pelesir ke taman safari sama kawan2 eltc. makan seperti orang kalap di putri sunda, naik gajah (hal yang belum pernah kucoba bahkan saat di negeri gajah putih), naik kursi terbang, naik roller coaster, lihat sirkus ega si harimau sumatra, lihat monyet petting, makan udang di cak gundul, dan lain-lain. hari jum'at makan-makan lagi di resto ikan cianjur dalam rangka pertemuan awal semester dan langsung pulang. namun minggu ini juga aku berhasil menyelesaikan terjemahanku yang terbaru atas manifesto seni trotsky, breton, dan rivera. belum lagi menulis entri ini, yang cukup panjang dan pseudo-ilmiah hehehe.

minggu ini aku khawatir sekaligus tenang. siapa yang tak khawatir terkena call margin sampai dua kali dan situasi belum membaik sampai sekarang? tapi pada saat yang sama aku juga cengengas-cengenges di taman safari dan cianjur. masih sempat-sempatnya menenangkan brokerku yang baik sampai dia bilang: "marahi aku! kamu jangan baik-baik sama aku. aku mau bunuh diri nech!" yach, gimana? aku betul-betul tak mendapatkan dorongan untuk marah-marah.

hidup ini mungkin bukan abu-abu, tapi pararel.

No comments:

Post a Comment