sketsa-sketsa yang keras kepala

11/21/2008

Sou Yeon


Sou Yeon sebenarnya hanyalah sejarah pribadi yang sedikit lebih dari biasa. Sebelum pertemuan kami, aku adalah seorang pria yang hanya mempunyai bayangan, dan karenanya, berusaha dengan keras untuk mencintainya. Entah oleh sebab apa, perjumpaanku dengan perempuan yang benar-benar kusukai tak pernah memberikan kesempatan bagiku untuk mencintainya dengan seganas-ganasnya. Biasanya pertemuan itu terjadi di tempat atau dalam situasi yang tak membolehkanku untuk menghampirinya, mengajaknya berkenalan, bercakap-cakap, merayu, dan seterusnya, seperti halnya di jalan atau dalam perjalanan.

Tapi Sou Yeon memberiku apa yang belum pernah aku punyai. Kami bertemu di sebuah kelas yang tak penting di sebuah negeri yang janggal. Kesempatan itu ada, jika tidak bisa dibilang berlimpah. Dan yang utama, aku menyukainya. Bukan karena alasan-alasan menarik yang kerap dibikin orang pintar, tapi karena dia rupawan. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih. Tak perlu kulukiskan secara khusus di sini sebab kecantikannya rasa-rasanya tak perlu lagi didiskusikan, apalagi diperdebatkan. Jika hatimu bergetar saat melihat film-film cengeng oriental, kau pasti bisa membayangkan sendiri sosoknya.

Aku tak langsung memperhatikannya pada pertemuan kami yang pertama. Waktu itu aku masih terlau bingung. Baru tiba dari bandara, langsung masuk kelas, menerima pelajaran dan menemukan tak satupun dari kawan-kawan sekelas berasal dari negeriku. Dan kebetulan 6 dari 8 perempuan yang ada dalam kelasku cantik semua. Aku agak bingung harus membayangkan dengan yang mana. Baru pada keesokan harinya aku mulai memiliki bayangannya. Hari itu aku sudah cukup beradaptasi dengan kehidupanku yang baru. Kesadaranku mulai pulih seperti sedia kala. Pelan-pelan aku mulai bisa memilah bahwa dia yang tercantik di antara yang cantik-cantik di kelas kami, dan mulai memikirkan yang tidak-tidak. Apa yang kubayangkan, meskipun seru, bagiku, mungkin tak menarik untuk kugelar di sini.

Tak ada kemajuan berarti sekitar tiga minggu sesudahnya. Kami hanya saling menyapa setiap pagi dan berpamitan ketika pulang. Tapi pada saat yang sama kami sebagai kelas bertambah akrab. Untuk kali pertama kami membikin janji untuk bertemu di kota di akhir pekan dan menghabiskan malam di sana. Sekolah kami memang berada di suburbia. Dari seluruh penghuni kelas kebetulan hanya aku dan Sou Yeon yang tinggal di dekat sekolah. Yang lain tinggal di kota dan beberapa tinggal di suburbia lainnya. Kawan-kawan meminta Sou Yeon untuk berangkat bersama denganku sebab aku belum pernah sama sekali ke kota. Sou Yeon sudah hampir satu tahun tinggal di negeri itu dan ratusan kali ke kota.

Kami berjanji untuk bertemu di stasiun kereta bawah tanah pada pukul 4 sore. Sou Yeon membimbingku naik ke tingkat dua, memilih kursi, mempersilakanku duduk sebelum kemudian duduk di sebelahku. Itulah kesempatan pertamaku untuk berdua-duaan dengannya. Meski tahu betapa pentingnya kesempatan itu, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sebab aku memang tak mahir merayu perempuan. Maka aku berusaha mengajaknya bicara seperti yang sudah-sudah sebab cukup sulit mengharapkannya memulai pembicaraan. Cuma karena kali ini bukan dalam situasi diskusi kelas, topiknya secara otomatis lebih bersifat pribadi.

Aku bercerita tentang hal-hal yang menyangkut diriku. Dia sendiri hanya tersenyum, mendengarkan dan kadang-kadang memberi semangat dengan ya, ya, dan ya. Ini lama-kelamaan membuatku merasa bodoh sendiri. Sou Yeon pasti berfikir aku tengah membual tentang kehebatan-kehebatanku. Jangan-jangan di negeri Sou Yeon ada juga peribahasa semacam tong kosong nyaring bunyinya atau air beriak tanda tak dalam. Karena ketakutan itu, aku berusaha berbicara sesedikit mungkin semenjak kami turun dari kereta. Ini berlangsung terlalu jauh hingga aku merasa sudah tak nyaman untuk kembali berbicara padanya.

Demikianlah sampai kami bertemu dengan kawan-kawan yang lain di resto barbekyu. Sepanjang sore itu aku malah memilih duduk bersama kawan-kawan perempuan yang lain. Seperti di dalam kelas, aku kembali menjadi pusat perhatian mereka sebab aku satu-satunya yang berbeda dari mereka dan karenanya lebih aneh di banding yang lain. Untuk menunjukkan penghargaan, kujawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan seantusias mungkin.

Sebenarnya aku kembali merasa khawatir. Sou Yeon, yang duduk di ujung meja dan sesekali melihat ke arah kami, pasti menganggapku berkepribadian ganda. Mengingat kesalahan-kesalahan itu, kuputuskan untuk tak lagi memikirkan bagaimana untuk membuatnya terpesona malam itu. Jelas, malam itu bukan malamku. Yang kupikirkan kini hanyalah bagaimana melewatkan malam itu dengan kehancuran sekecil-kecilnya.

Setelah puas dengan barbekyu, kami bergerak dari satu bar ke bar yang lain, dari tengah kota sampai ke seputar pelabuhan. Ketika kami membubarkan diri malam sudah benar-benar hitam. Sudah tak ada kereta lagi ke tempatku dan Sou Yeon. Kami harus menunggu sampai pagi. Ketika kawan kami yang terakhir melambaikan tangan, rasanya aku ingin melompat ke air dan bertemu jutaan ubur-ubur penyengat di sana. Peran apa yang harus kumainkan kali ini? Apakah aku harus menjadi ceria, seperti ketika pertama kali berbicara dengannya di atas kereta dan ketika bersama kawan-kawan tadi? Atau menjadi sosok yang muram, seperti ketika kami meninggalkan stasiun dan menuju ke resto barbekyu tadi?

Sou Yeon sendiri juga tampak gugup. Setelah berusaha keras menguasai dirinya, dia tersenyum dan menunjuk arah kembali ke kota. Ini membantuku memutuskan peranku. Kupikir jika Sou Yeon tak berbicara dan hanya menggunakan bahasa tubuh, kenapa aku harus? Yang penting aku harus konsisten kali ini. Kami berjalan berdampingan cukup lama, membelah sebuah taman yang luas dan menyusuri trotoar yang mulai sepi sekitar lima blok. Di depan sebuah kafe di sudut persimpangan blok ke enam, dia berhenti, berputar-putar sebelum kemudian melihatku sembari menunjuk ke dalam. Aku mengangguk.

Kami masuk dan langsung berjalan ke arah salah seorang pelayan. Sou Yeon dan aku masing-masing memesan segelas coklat hangat dan secangkir kopi hitam panas.
Sou Yeon mengambil majalah gosip dan berjalan ke sebuah meja. Kuambil sebatang rokok, memperlihatkan padanya, dan menunjuk keluar. Sebenarnya aku tak begitu ingin merokok. Cuaca di luar terlalu dingin. Aku hanya sekedar menunda kekikukan meskipun tahu cepat atau lambat aku harus menyerah. Kuhabiskan semua batang yang ada. Kepalanya yang suntuk pada majalah di depannya perlahan mendongak saat merasa bahwa ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Dia tersenyum ketika menemukan mataku di depannya.

Kubalas senyumnya. Kuambil kursi di depannya. Dia kembali menekuni ke majalahnya, sedang aku tak tahu harus berbuat apa. Sempat terfikir untuk mengambil majalah yang lain, namun ini sama dengan menunjukkan bahwa aku, selain pembual dan berkepribadian ganda, juga seorang pengekor. Sekali lagi Sou Yeon menyelamatkanku. Dia menyorongkan majalahnya ke arahku. Ternyata dia tengah mencari 10 perbedaan dalam dua gambar. Teka-teki kanak-kanak. Sou Yeon baru menemukan tiga perbedaan. Dia mengundangku untuk membantunya. Tak lama kemudian aku sudah lupa pada peran murungku. Kupikir pergantian ini tak terlalu memalukan sebab dia yang memulai duluan. Dengan lantang kudikte jawaban demi jawaban teka-teki itu. Kebanggaan menyelinap dalam dadaku, membayangkan betapa kagumnya Sou Yeon dengan kecermatanku.

Saat aku menunjuk perbedaan kedelapan, Sou Yeon tiba-tiba bertanya padaku apakah aku memperhatikan laki-laki dan perempuan yang tadi duduk di sebelah kami. Kujawab aku bahkan lupa apakah ada orang di sekitar kami tadi. Kata Sou Yeon mereka berasal dari negerinya. Tapi rupanya mereka tak tahu itu. Pasangan itu ternyata berbicara tentang masalah yang mereka hadapi di ranjang. Si pria suka menangis setiap kali klimaks datang dan si perempuan sangat terganggu dengan itu. Kami tak bisa tak tertawa membayangkannnya.

Tawa Sou Yeon masih berderai-derai ketika aku sudah membisu kembali. Aku baru menyadari sesuatu. Sesungguhnya bukan aku yang cermat, tapi dia yang tak mempedulikan teka-teki itu. Sou Yeon tampaknya melihat perubahan pada diriku karena dia tiba-tiba juga menghentikan tawanya. Suasana menjadi aneh seperti semula. Sou Yeon pelan-pelan kembali lari ke majalahnya. Aku sendiri tak tahu harus lari ke mana.

Menyerah, aku bangkit, berjalan ke rak majalah, dan kembali dengan sebuah majalah di tangan. Saat kutaruh di atas meja, aku baru tahu bahwa itu majalah pria eksekutif muda. Gambar demi gambar perempuan seksi memenuhi halaman-halaman depan namun tak ada satupun yang menarik perhatianku. Kemudian masuk ke halaman-halaman wawancara dengan seorang CEO muda yang sukses dalam kehidupan dan cinta. Yang ini malah membikinku sakit hati.

Tiba-tiba ada yang berbicara denganku. Aku menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang sebelum meyakinkan diri bahwa Sou Yeon lah berbicara kepadaku. Akhirnya. Aku meminta maaf dan memintanya mengulang kata-katanya. Ternyata Sou Yeon bertanya padaku apakah aku mempunyai kisah memilukan dalam hidupku dan bagaimana hancurnya perasaanku saat itu. Bagiku membikin cerita semacam itu tak terlalu susah. Aku bahkan tak perlu mengarangnya karena toh cerita hidupku adalah cerita laki-laki yang kerap dilukai oleh kehidupan.

Aku sengaja menghela nafas dan kemudian tersenyum kecut. Dia bertanya padaku apa yang terjadi. Kujawab tak ada apa-apa, namun dengan tetap memelihara kekecutan itu. Umpanku termakan, dia jadi sangat penasaran. Dengan setengah memaksa, dia bertanya sekali lagi pertanyaan yang sama. Dan mulailah aku bercerita tentang...KODOK.

Kodok mengingatkanku pada kisah sedih masa kecil yang selalu menghantuiku sampai sekarang. Aku lahir di desa padi. Keluargaku cukup terpandang di desaku. Bapakku orang pertama di desaku yang berprofesi sebagai pegawai kantor. Yang lain adalah tuan tanah atau petani penggarap. Memang kami tak sekaya para para tuan tanah, tapi kami unggul dalam soal pendidikan dan gaya hidup.

Kawan-kawanku kebanyakan adalah anak-anak petani penggarap. Hubungan kami seperti hubungan bapakku dan bapak-bapak mereka. Mereka selalu ingin menyenangkanku dan menuruti kata-kataku padahal aku sendiri tak pernah pusing dengan mereka dan kata-kata mereka. Seperti Frodo dan kawan-kawannya. Yang paling dekat denganku adalah Sokran. Kami seperti tak terpisahkan. Bermain, belajar, makan, dan tidur bersama-sama. Salah satu kegemaran kami adalah berburu kodok di sawah, terutama setelah hujan. Sebenarnya yang berburu adalah Sokran. Yang makan juga dia dan keluarganya. Aku hanya berteriak-teriak seperti mandor dan kadang-kadang membantu membawa kodok-kodok hasil tangkapan Sokran. Yang aku gemari hanyalah ketegangan menyaksikan Sokran mengintai dan menjebak kodok-kodok itu.

Suatu saat, saat kami berpamitan sebelum berangkat berburu di sawah, ibuku berpesan padaku dan Sokran untuk membawa pulang ke rumahku beberapa kodok. Sebelumnya beliau tak pernah meminta hal serupa. Sokran tampak bersemangat ketika mengiyakan permintaan ibuku. Baginya itu adalah kesempatan untuk menyenangkan hati orang tuaku. Namun pada hari itu kodok-kodok seperti enggan keluar rumah. Kami sudah menjelajahi hampir seluruh sawah desa namun baru tiga kodok yang terlihat dan cuma satu yang tertangkap.

Saat terdengar adzan maghrib, kami sudah hampir kembali ke tempat kami memulai perburuan tadi. Hasilnya tetap tiga kodok terlihat dan satu tertangkap. Kuajak Sokran untuk bergegas pulang. Dengan sopan dia menjawab sebentar lagi. Baru kali itu dia tak menuruti kata-kataku. Namun aku tak marah sebab, dia melakukannya demi kesenangan orang tuaku. Sokran memintaku untuk naik ke dekat sungai kecil dan menunggunya di sana. Tapi Sokran tak pernah menyusulku. Tubuh mungilnya tersengat listrik yang dialirkan ke sawah desa setiap usai adzan maghrib untuk membunuh hama tikus. Semangatnya menyenangkan orang tuaku telah membuatnya lupa pada jam listrik. Aku sendiri lupa tanpa alasan.

Aku tak tahu siapa yang pertama menemukan kami. Tiba-tiba di sekitarku sudah gaduh luar biasa. Orang tua Sokran menangis lirih memeluk jenazah anaknya. Ibuku meraung-raung karena aku tiba-tiba menjadi seperti orang linglung dan tak mau diajak pulang. Kelinglunganku bertahan sampai 3 minggu lamanya. Orang tuaku membawaku ke beberapa dokter dan dukun. Semuanya tak mampu menyembuhkan kelinglunganku. Kelinglungan itu memuai dengan sendirinya ketika aku mampu menitikkan airmata untuk pertama kalinya. Ibuku terisak menyaksikan itu dan berujar, “Tumpahkan, Nak, tumpahkan semua.” Lalu aku meraung-raung di dada ibuku.

Sejak saat itu aku selalu bercita-cita menjadi peternak kodok meski belum kesampaian sampai saat ini. Jika aku mempunyai peternakan kodok, anak-anak petani penggarap tak perlu mati tragis seperti Sokran. Mereka bisa ambil sepuas-puasnya untuk lauk keluarganya.

Kuakhiri ceritaku dengan menyeka air mata dengan punggung tanganku. Kulihat mata Sou Yeon jauh lebih berair dari punyaku. Dia menarik tisu di meja dan membaginya denganku sebelum kemudian melingkarkan tangannya dibahuku. Kusembunyikan mukaku di dadanya yang hangat. Aku terhanyut dalam suasana yang kuciptakan sendiri dan tak kunjung bisa menghentikan air mataku. Semakin keras kutahan, semakin keras dia melawan. Aku menyerah dan meraung-raung di dadanya. Lamat-lamat kudengar Sou Yeon berkata:

“Tumpahkan, Nak, tumpah semua. Cup, cup, cup. Aduh, bayi kuda nil-ku.”

Sejak saat itu lah aku tak sanggup untuk menangis lagi.


Untuk kawan di tikungan, Hee Jina

1 comment:

  1. Anonymous4:29 pm

    Damn!!!!!!!!!!!!,....Dwi..this is such a nice story...roman,comedy,drama...
    well................I am 101% sure you that can be a great man in literature Dwi.......you just need to find your way......., Damn I envy you...you have a gift with words my friend.

    Release the Maestro inside you,..don't get stuck with desk jobs....

    ...you fellow kererian...

    ReplyDelete