Jika ada orang Indonesia marah-marah dengan desakan Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia (Karyawan) ke pemerintahnya untuk membatasi pemutaran lagu-lagu Indonesia, mungkin ada baiknya untuk mempertimbangkan kegusarannya sekali lagi. Jangan-jangan ini bukan ‘kabar buruk’ bagi Indonesia seperti yang sudah-sudah. Jangan-jangan ini waktunya untuk bersimpati terhadap langkah buruk jiran kita dan berharap tak melakukan hal yang sama. Paling tidak terdapat tiga kerugian yang Malaysia akan hadapi jika pemerintah mereka jadi menerima usulan ini.
Pertama, pembatasan ini akan semakin menegaskan konteks permusuhan dan menang-kalah yang terlanjur tercipta dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Bukankah pembatasan mengasumsikan adanya ancaman? Yang datang dari musuh? Yang hendak mengalahkan? Tak seharusnya hubungan Indonesia-Malaysia terus menerus ditempatkan seperti dua jagoan pencak silat di pertunjukan orkes melayu. Dan jika pemerintah Malaysia jadi melakukan pembatasan alias permusuhan ini, mereka mau tak mau harus siap dianggap ‘kalah’. Pembatasan, di manapun juga, adalah tindakan panik dan putus asa. Sebuah tindakan yang akan diambil ketika kita sudah tak mampu untuk menyaingi yang dianggap lawan. Seperti halnya orang tua yang membatasi anaknya keluar rumah setelah nasehatnya kalah terus-menerus melawan bujukan kawan anaknya. Pembatasan dengan demikian jarang keluar dari pihak yang tengah berada di atas angin. Manakah, misalnya, yang lebih sering membatasi rakyatnya? Amerika Serikat yang ‘menang’ atau Uni Soviet yang akhirnya ’tumbang’?
Kedua, pembatasan sebenarnya adalah tindakan yang tidak canggih dan tidak efektif dalam apa yang disebut ‘pertahanan budaya’. Pembatasan bergerak secara keras, terang-terangan, dan terbatas. Dia memaksa orang untuk patuh dan menghukum yang tidak. Sudah naluri orang untuk membenci paksaan dan hukuman, kecuali para masokis, tentu saja. Masyarakat tak akan pernah mematuhinya dengan sepenuh hati. Cepat atau lambat ini akan menimbulkan reaksi negatif. Reaksi ini tidak hanya akan datang dari musisi Indonesia, tapi justru dari rakyat Malaysia sendiri. Pembatasan juga memamerkan peraturan, tindakan dan pelakunya secara nyalang. Mudah bagi masyarakat Malaysia untuk mencari celah, berkelit dan bahkan melawannya. Pembatasan akhirnya tak akan berdaya saat seseorang memasuki ruang pribadinya yang tak terjangkau oleh aparatur negara. Apalagi di zaman cyber dan di antara masyarakat yang relatif melek internet seperti Malaysia. Pemerintah Malaysia mungkin bisa belajar dari kegagalan Soeharto dengan segala aturan, tindakan, lembaga pengawas dalam menghadapi ‘pengaruh-pengaruh negatif westernisasi’, ‘nama-nama yang tidak Indonesia’, ‘bahaya laten komunis’, dan sejenisnya.
Akhirnya, pembatasan hanya akan mempersulit kesenian dan pekerja seni Malaysia sendiri dalam jangka panjang. Kebudayaan dengan kesenian akan maju dan berkembang jika bersentuhan dengan kebudayaan dan kesenian lain. Kebudayaan Arab menjadi maju lewat persentuhannya dengan kebudayaan Yahudi dan Yunani. Demikian juga dengan kesenian Amerika Utara yang menangguk keuntungan dari penerimaannya terhadap khasanah Afrika, Amerika Latin dan Asia. Membatasi produk kebudayaan lain sama dengan mematikan sumber pertumbuhan budaya sendiri. Tengoklah kebudayaan Cina yang tidur pulas di zaman menutup diri. Atau Kamboja di masa Pol Pot mengosongkan kota. Kenapa lagu Indonesia lebih diterima dibanding lagu Malaysia? Jangan-jangan ini karena Indonesia bersikap ramah terhadap kebudayaan manca. Musisi Indonesia banyak belajar dari kepedihan Britpop, ledakan hip metal America, keromantisan pop Korea dan Taiwan, dan bahkan kemelodiusan rock Malaysia. Jangan-jangan ini karena pada dekade 80-an pemerintah Malaysia membatasi kehadiran musisi Indonesia karena kejayaan Koes Ploes dan koleganya pada dekade sebelumnya. Jangan-jangan ini karena pada suatu masa rocker Malaysia pernah dilarang menggondrongkan rambutnya karena dianggap tak Melayu.
Sekali lagi, pembatasan kehadiran lagu-lagu Indonesia cepat atau lambat justru akan mencederai Malaysia sendiri. Selain menempatkan Malaysia pada perseteruan dan, bahkan, ’kekalahan’, pembatasan juga menimbulkan perlawanan dan menghentikan sumber pertumbuhan musik Malaysia sendiri. Lalu apa yang bisa dilakukan? Malaysia dan Indonesia harus berhenti mendekati segala urusan yang melibatkan keduanya dalam bingkai permusuhan dan menang-kalah. Jangan-jangan ini hanya chauvinisme yang dikembangkan untuk mengaburkan ketidakmampuan masing-masing untuk mengangkat keberadaannya. Pada titik ini kedua bangsa menemukan musuh bersama dan bahu-membahu mengatasinya.
*Entri ini oleh Tuan Dewey Setiawan didedikasikan untuk Amy Search dan, tentu saja, Dewi Persik.
sketsa-sketsa yang keras kepala
11/15/2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

mungkin benar analisa Dewey...tapi satu yng tak boleh kita lupa...kita musti tetap mawas diri terhadap apa yang sudah kita raih sekarang. Jaya Indonesiaku!!!
ReplyDeletesip! terima kasih.
ReplyDelete