kita semakin tajam saja. baru tiga bulan yang lalu, aku ingat, berjalan
pagi hari ke pasar dekat perempatan untuk membeli buah.
berdempet-dempetan melintas jalan yang cukup lebar. sempat menyesal meninggalkan
seonggok bubur dalam mangkuk di kedai depan stadion raja. Tapi kita harus
cepat-cepat berangkat. siang sedikit mulai banyak kawan-kawan kita yang
berbelanja. ya, ya, ya rok yang sama. rok biru muda dengan motif
perca-perca. menyeberangi beberapa jalan, terus maju dan maju, pelan. kemudian
kita tiba. hanya kau yang paling memukau di antara pedagang-pedagang
buah dan sepatu pemadam kebakaran. aku tak ragu soal itu. dan warna-warna
hijau pergi begitu saja. "sudahlah, lebih baik membeli, daripada tidak
sama sekali."
sore harinya kau melapor bahwa ada bau tak sedap. memang begitu
reaksinya. tapi aku cukup lega. paling tidak tempat itu memang bisa diserang
oleh buah-buahan. lalu kamu tekun melahap berbutir-butir pil itu tiap
jamnya. benar-benar manusia yang berwatak. maksudku watak apa saja, belum
tentu baik. termasuk cengeng dan tak bertahan kalau tak aku
paksa-paksa. apakah kamu memang diciptakan selentur itu?
tak pernah bosan aku mengingatkan. setiap aku terjaga tentunya.
terutama ketika kita saling menunggu malam bingung yang akan beranak timur
rekah. minumlah. jangan kopi, pakai air putih. kadang-kadang juga jus
nenas. untunglah banyak manusia yang ingin ramping di sini. dan semua para
melek huruf hanya suka melihat gambar.
sayang sekali banyak pekerjaan mendera sehingga aku tak sempat mencatat
rinci salah satu kurva waktu yang penting dalam hidupku. hidup yang
mempertahankan cita-cita, bukan berjuang meraihnya. bertahan dan bertahan,
hancur, merapat, bangkit dan redam. sampai kedatangan kita kali kedua.
masih lama, yang pasti.
memang gregetnya sudah hilang. setiap greget berkurang saat kita bangun
pagi hari, atau sore hari jika waktu tidur kita berbalik. namun kalau
aku ingat-ingat tak jauh dari kekhawatiran. huaahhh, biasa sekali bunyi
kata ini. tapi itulah kira-kira.
dan apa yang kita tunggu datang juga. sore hari kita memenuhi janji
dengan kawan-kawan dan profesor belanda di lapangan depan akademi. hanya
kita saja. lalu aku pergi ke perpustakaan untuk mencari mereka. ya,
beberapa mereka di sana. lalu aku teringat bahwa tak ada yang membantu
profesor membawakan bidak-bidak caturnya yang besar. aku menjemput dan
membantunya. sesaimpainya kembali di lapangan itu, semu sudah lengkap.
dengan van coklat kita berangkat.
suasana panas benar. meyakinkan orang vietnam konyol itu tak mempan.
menyalakan air con tapi membuka jendela! ya, ampun. lalu kita sempat
melewati kolam besar di bawah jalan layang bersusun empat. aku berguaru
dengan ke si dokter cina, "kalau ada yang iseng melempar bayi buaya ke
situ gimana ya?" lalu semua sibuk berkhayal. semua orang memang suka
bercerita. pembicaraan lari ke soal ular. tentang migrasi ular ke cina pada
bulan-bulan tertentu. kecil, tapi mematikan.
van mulai berbelok ke jalan yang membelah miliaran rumput galah. bodoh
sungguh mahasiswa-mahasiswa itu, mau membayar ratusan juta untuk
dibuang istana buatan di tengah rawa-rawa. kalau seperti apa bedanya hidup di
monasteri rahib-rahib zaman pertengahan. untung aku tak ditempatkan di
tempat ini. tak lama kemudian semua serba mencuat. gedung, katedral,
kakus, danau buatan, patung, prasasti, semuanya. berputar-putar lalu
berhenti. tak ada yang menyambut kita. kita berjalan ke komplek pinggir.
masuk gedung dan mulai melihat panggung. sempit. gila. dasar imitator!
lekuk bangunan oxford, cambridge, harvard di lumat. arsitekturnya, kalau
masih hidup, di kontrak dan didatangkan. tapi panggung teater
dihilangkan. dasar kuli ilmu terapan!
panggung seminar harus disulap. semua sibuk usul, kali pertama.
lama-lama tampak tak ada yang mungkin. semua terlihat bingung dan, aku tahu,
berharap semoga tak ada yang datang dan pertunjukan dibatalkan. kecuali
profesor belanda energik itu tentunya. kita masih berputar-putar di
sela meja. melihat ke panggung seolah-olah petak sempit itu tengah
berubah. si vietnam konyol menghampiri piano yang ada di pojok ruangan.
senyum-senyum sebentar lalu menjatuhkan jarinya. lagu carpenter! sang burma
langsung bergegas datang bak pasangan elton john dan berunjuk suara,
ngotot, memejamkan mata.
aku sempat hilang keseimbangan.
aku tak sempat melihat kamu berjalan ke belakang. namun saat kamu
kembali, aku menantang. kamu tersenyum, manis sekali. "aku berdarah."
katamu.
kita menunggu dan menunggu. kita juga baru sadar bahwa ini hari libur. ya ampun, siapa yang akan menonton kita? apa ada yang mau dari mahasiswa tak berkarakter itu menyempatkan diri untuk datang ke kampus untuk menonton kami? yang ramai hanyalah angin dan air danau. sambar-tersambar. gedung-gedung semakin lama semakin sunyi. lampu tak juga dinyalakan. tak ada bayangan. katedral di depan kita menghitam dan menghitam seperti raksasa negro. beberapa dari kita ikut ke mobil rattana untuk kembali ke kota membeli camilan dan air minum. kantin tutup. kamu salah satu di antaranya. aku tinggal. christine memanggilku untuk ikut pergi ke dekat danau. duduk di dekat palm cebol dan merokok sampoerna. rokok kretek dari dulu sudah memukau dunia. sayangnya perempuan tomboi ini kawanku. kalau tidak, sudah aku hargai setiap batang sampoernaku.
tak ada yang berbicara. dia terus-menerus mengambil rokokku. aku juga. seperti tak ingin kalah. padahal yang rugi juga aku. tiba-tiba ada air menyembur kita. kita berlari-lari menghindar dalam kegelapan dan masih tersambar juga. ternyata keran penyiram taman pinggir danau itu tengah dinyalakan. kita tertawa berderai-derai. tak kujumpai kawan-kawan di depan katedral. mungkin mereka berjalan-jalan atau lari mencari gedung yang masih bercahaya. aku juga sedikit tegang.
mereka berkumpul di depan toilet. kamu sudah kembali rupanya. heineken titipanku lupa kamu belikan. kita berunding tentang hal-hal sepele di depan keripik kentang. sesudah perut terisi, profesor belanda itu memimpin kita kembali ke panggung. sudah pasti tak akan ada yang datang. universitas termenung seperti kuburan. dia menyuruh kita tetap bermain meski tanpa penonton. bermain untuk diri kita sendiri. seperti srimulat di thr surabaya. gilanya, kita harus tetap memakai kostum pementasan.
kita pulang tepat pada pukul delapan petang. ini sejarah terhitam dunia teater.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment