cerita tentang anak cucu ***
yang pergi berjuta langkah
dari kampung penuh pohon sagu
dan makanan-makanan pahit
ke sebuah pulau
yang sengit
beranak-pinak dia
berkawin-kawinan ia
dan tibalah peran si anak
ketika kecil sudah tinggi cita-citanya
menggaruk wajah dunia
ke utara, ke utara, papa
saat dewasa
hidup tengah susah di negerinya
tapi apa yang bisa menahan
sebuah cita-cita serius?
lalu, pergi berangkat
ke utara, memang
tapi tak jauh
ke siam,
negeri beberapa pagoda
dan patung sidharta
yang tak lagi disuguhi air suci vihara
tapi berkardus-kardus air mineral
beserta sedotannya
belajar bertutur, berkata-kata, dan
menulis aksara yang tak tetap hati
dalam asuhan seorang ilmuwan
yang terlahir di britain bagian selatan
manusia
yang konon
paling sah
jadi
paling tidak satu impiannya tergapai:
bertemu dan diasuh homo eropa
dalam biaya setengah
si anak dicerahkan
kini dia mempercayai buku
bukan lagi batu
namun dasar salah didikan
buku baginya berhala baru
setiap bertemu kawan,
sapanya "sudah membaca buku?"
seperti nenek moyangnya menegur
"sudah menyembah batu?"
ketika mencari hikmat
bersama kawan-kawan yang berminat:
"tapi menurut buku ini begini"
"bagaimana? mari kita dengar dan timbang, kawan."
"kau baca sendiri, tapi yang pasti bukan seperti kamu,
kau baca sendiri!"
seperti *** yang tak pernah berhasil
menguraikan hukum adat
di depan lima kepala keluarga
dalam tiga puluh kata-kata singkat
dasar salah belajar
semua yang tertunda
dikunyah seperti
menguraikan cara kerja mesin uap
dia, bagaimanapun
selalu dalam lindungan
tuhan
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment