sketsa-sketsa yang keras kepala

1/18/2004

Sanggama Indera

Keriangan ufuk berlarikkan warna biru dan kuning,
kupu-kupu genit mengoret-ngoret angkasa kering.
Bumi mengangkat roknya, mencari posisi duduk yang
paling tenang, agar tak terlihat warna celana
dalamnya, yang terbentuk oleh dua magnet besar penali
angin, tanah, dan lautan, dihadapan matari yang
menatap binal.
Berarak-arakan tindih menindih tubuh pohon delima,
menggarisi pertemuan tanah kusam dengan medan para
burung untuk memamerkan keahliannya menunggang angin,
dengan beberapa trik kecil di sela-sela bulu-bulunya.
Semesta yang kecil, menghembuskan kesan besar.
Halimun ramai merendah berduyun-duyun turun, membawa
baki penuh air bersayap, melengkapi baptis cuaca
kepada tanah dan semua benda yang menegakkan tubuhnya
pada dagingnya yang gembur tanpa rekah.
Sebelah bawah, magis desa bawah gunung, tertelikung
ribuan batang padi yang kaya raya dengan bulir-bulir
lancip beberapa saat sebelum niscayanya nasib, dipukul
dan diremukkan, dicuci dan dilemahkan untuk
menyelamatkan anak cucunya dari kepadasan seperti
berjuta tahun lalu di utara.
Redup sunyi senyap sebagai mendung, cahaya dan cahaya
hati
Semua waktu harusnya begini, tak perlu berubah, tak
bermanfaat daun menemui kering.
Marilah bersorak sorai merasuki tubuh alam, membuatnya
linglung sementara waktu.
Mengawali kayu lancip dan ranting menjulang dengan
semua penghuni penuh kasih kembara, mengandalkan
sayap.
Turun sedikit pada lubang-lubang jati dengan
pemeliharanya yang mengumpulkan bahan makan pada
musimnya, yang memakan dengan pelan pada waktunya.
Membuka mata untuk tanah datar dengan berjuta-milyar
kekasih penginjak diri. Tempat berlabuh sejenak
makhluk atap udara, tempat mencari bahan bagi hewan
tengahan, tempat berjemur bagi satwa bawah.
Membenamkan telunjuk untuk mencari hidup di sela-sela
rapat tanah tertenun, terletak mereka yang hidup aman,
yang tak pernah termasuki kepala gajah besar, kepala
penuh taring para serigala liar.Garis mungil berkelok
tajam melukis karpet menjulang, mengundang kaki-kaki
kokoh datang dan rebah dalam persenda gurauan dengan
rerambatan seperti yang dijalaninya semenjak
terpotongnya beberapa semak untuk membuka alur ke air
terjun. Betapa disesalinya kebodohan lahar pembuka
jalan dalam mencari jalur yang lebih tenang menuju
samudera. Tak perlu kejutan sebagai jebakan itu, yang
membuat air merasa terpleset oleh tanah.
Nafas bening, sewarna dengan wadah dan semua benda
yang disalip.
Kumpulan harmonium tanpa titik api, mana pernah dia
berkenalan dengan larangan atau saran. Masyarakat
fauna mendapatkan dari pengalaman, bahwa gigi tikus
patah saat mencoba menumbangkan beringin remaja, bahwa
kelinci mati ketika mencoba melahap macan. Tak pernah
burung hantu, sebagai tua-tua lingkungan, melarang.
Kekejaman flora, kekejaman tanpa sebab,
Kekejaman sebatang pohon menyerap hara dan air.
Spora berdansa, spora birahi dihantarkan angin gunung,
yang paham siapa teman dan apa tujuan, menemui
mempelainya.
Diantarkannya ke rumah putik dengan desahan, sebagai
dorongan bagi si jantan untuk segera menuntaskan satu
gairah semua mahluk yang mengenal perbedaan. Milikku
tak seperti milikmu, terserah siapa yang menyerang
lebih dulu. Tak perlu harus ditentukan lewat siapa
yang lebih punya kelebihan, baik daging maupun jarak
edar yang mengatasi kelumpuhan flora.
Tersebarlah karena angin, tersebarlah tanpa
persinggungan karena keindahan kita sudah melewati
sentuhan.
Dewandaru-dewandaru menanam dirinya sendiri, alam yang
tak bergantung pada belas kasih dan jilatan di
telinga, yang kerap direkam dalam tumbuhan-tumbuhan
besi yang ditanam dibelahan lain bundar bumi
Memuja kamboja dengan tekun, menyembah sedap malam,
terlintas cinta kasih tanpa seramnya kuburan.
Tiga bukit siam menselonjorkan kakinya, saling
bergandengan tak ingin dibelah.
Sebuah pembekalan, untuk mengercapi selaksa kekaguman
Selalu terlintas dalam bayangan gagap, kaki berbungkus
karet dan kapas merajam semua tumpukan tanah
tertinggi. Mungkin dia sendiri tak pernah menyadari
telah menendang tanah yang kini tengah didecaki, saat
benar-benar mengitari sedikit ruang lapang diantara
rapatnya barisan tumbuhan.
Menemukanmu disana, memergokimu disini, di
tengah-tengah, di kelokan langit hutan tropika yang
menyembul tersunggi gunung.
Keriangan yang sama-keriangan penuh kilap cahaya,
kelembaban cinta kasih, desau-desau khas yang tak
lekas walau kran langit bocor, melesak bawah dan
menghempas keras.
Dari mula inikah dirimu berasal, terseret angin yang
salah, turun semakin turun berharap surya semakin
dapat dijauhi kalornya.
Tak pernah tahu bahwa sang kencana lebih ramah dengan
sempalan bumi yang berusaha memetiknyanya lewat ukiran
jantung sedimen berjuta-juta tahun yang silam, sembari
terbantu angkasawan yang tak sengaja menyelipkan tanah
dicakar-cakarnya, dipucuk terlancip paruhnya, setelah
menjejak tanah di dataran rendah, setelah mematuk ular
sawah, padi, dan ayam.
Terkadang, memang.
Tapi, jutaan surya lamanya, tak mustahil unggas
menimbun gunung, mendirikan bukit, memugar jurang,
memindahkan kerang ke samping kawah.
Bening tak pernah melawan tanah, air yang kau giring
pada mana dia harus singgah dan turun. Bersukalah
sejuk, bersukalah kaca sebelum kedatanganmu yang
kesekian kali pada tanah-tanah yang sudah lupa dengan
pahitnya akar, girisnya pinggir ilalang, lelehan
kambium, yang dulu pernah menyapamu setiap kamu gesek
tepian-tepiannya syaraf gelinya.
Mainkan orkestramu hai penduduk flora, gemeretakkan
semua rantingmu, desir—desirkan semua daunmu,
tumbang-tumbangkan badanmu jika waktunya menemui tanah
dengan berdebam.
Dan sudikah kiranya wahai sekalian penggerak kaki,
perut dan sayap, melakukan hal yang sama, jeritan
gembira pacet, jangkrik yang terbakar biji lombok
mulutnya, ayo berteriaklah, gubahlah senandung statis
yang lain!
Kenalkan akan penggalan ini seutuhnya, ingat! Hanya
penggalan, masih tegakah seru sekalian tak membawa
tubuh takjub takut ini berkeliling ke setiap sudut,
memamerkan kemampuan terbaikmu, jangan terlewat
seroncepun debu di atas pucuk-pucuk cemara yang enggan
turun sebelum musim meneriakkan air dan luruh terseret
melakoni episode mendangkalkan sungai, parit, danau,
dan gudang garam.
Tuliskan, lekatkan semua pada mata, rekamkan bunyimu
pada telinga, hembus kulit dengan ajaran akan sentuhan
isi-isi bumi hijau.
Dan juga pinus itu, adakah dia mengenalkan diri dengan
cara lain selain warna dan ketinggian dirajanya?
Tentu keanggunan semampai bukan pelengkap sapuan mata
dalam persepsi ramah, tapi adakah dia menoleh dengan
lentukan yang lain? Terjungkal rebah tanpa ratapan
kayu-kayu kering berbentuk segitiga hasil
percumbuannya dengan matari yang gagal.
Lurus dia mengacung pada elang gunung, menyapa lembut
bahwa si sayap belum sampai dirumahnya yang berbentuk
karang dengan beberapa lubang untuk putranya yang
gemar makan ikan gurami.
Terpujalah daun, terpujalah daun atas segala beban dan
kuasanya!
Beratus beruk takut mandi meneduhkan bulu mereka
terhadap lelehan air di tanah.
Menggantungkan suhu tubuh pada ranting dan dahan
Bercuap melengking menggemakan dinding-dinding hutan
yang berupa padang aneka ukuran dengan permadani
rumput tanpa benang. Ada beberapa lubang baru di situ.
Si beruk tak pernah sadar, ingatlah volume otaknya
sebesar cangkir, telah dia ciptakan kebergidikan murni
pada mamalia pintar dalam usahanya mencoba menaklukkan
kerimbunan dengan apa yang telah dibuatnya zaman lepas
zaman, disangkanya hantu hutan mencari kepala
Pengecut yang bodoh, tak ada kebanggaan atas
penaklukan dengan korek api dan motor.
Hanya mereka yang menghadiratkan darah ribuan tahun
lamanya, melangkah meremukkan duri yang berserakan
ibarat misis di atas roti tawar.
Kabut air memendarkan gurat lelah pada mereka yang
menabrak lajunya menjumpai tanah.
Tertulis selalu, selalu begini, tak ada kosong pikiran
melukisnya dengan garis. Tak pernah sama para pemuja
hijau menceritakan pada lembaran-lembaran yang asalnya
dari mahoni tua hutan dan gunung ini juga.
Penyetubuh akan teruskan sampai hayat, sampai hayat
melepas soneta, sajak, prosa cerah pada cekungan
tanah. Biarlah selalu begitu.
Suatu saat nanti akan terbawa kesini seorang anak
kecil kembali
Mendongakkan kepala, menghisap sedalam-dalamnya
beliung mungil yang menyusup-nyusup di sela-sela
lembah dengan cara yang berbeda.
Diceritakannya dengan batu yang lain, dibisikkannya
dengan desah yang ganjil
Ada kalanya ngarai menghentikan denyutnya, beku,
pingsan, tak mengenal derak geser bumi dan bulan,
berat-berat udara yang tak berimbang, naik turun
melabrakkan tenaga perobohan.
Ada kalanya dia menghentikan denyutnya.
Tapi seiring dengan puncak koda melodi sang nuri, sang
curam mengaum dahsyat, melaburkan air mendekap udara,
membasuh muka kelopak-kelopak bunga yang pucat
terjajah lumut tebing
Gelagapan, tersedak, namun segera sadar bertepuk
dengan dengan gencar menghadiratkan hujan yang
selanjutnya, hujan yang tak begitu lama.
Lalu banjir turun dengan gaya kupu-kupu pada
sungai-sungai, yang selalu setia menjaga
kedangkalannya agar mereka yang bergantung tak perlu
takut tenggelam, menabrak-nabrak batu hitam, ditemukan
tersangkut bak cucian gadis belia dengan payudara
malu-malu.
Dorong-mendorong, enggan berangkat turun lebih awal,
masih terkenang-kenang betapa nikmat dihisap putingnya
oleh pohon karet, ditarik-tarik ke atas tubuhnya yang
jangkung
Seberapa kuatkah semua jaring-jaring ini terpilin,
terhubung, dan tergantung?
Mungkin sebelum salah satu dihabisi generasinya oleh
tambang dan besi pipih bergigi
Tak perlu teratur, tak mungkin terstruktur, lebih
banyak kejadian magis yang menarik karenanya, karena
waktu hanya ditentukan oleh lagu cacat ayam hutan
Bergolak di kedamaian pagi, menyayat lemah pada saat
tertutupnya mata hari.
Musnah ditindas hitam, membentuk gerumbul yang sama
kelam, perbedaanmu hanya ditandai oleh jalan berkelok,
menukik, mengerang menghadap langit, pada bulan yang
dirusak mukanya oleh air padat atas kejatuhannya dalam
‘dosa’ yang kesekian kalinya.
Mereka terlalu bosan untuk tahu apa yang terjadi esok
hari, tak pernah semut berdebar membayangkan menemui
lautan pasir dengan angin api saat pertama kali
kepalanya menyembul dari kedalaman bumi.
Mengangguk alam, mengecupkan sepenuh-penuhnya
pengertian seperti yang dilukiskan dari kadaluarsanya
jenggot mereka, bahwa tak hanya berdebamnya tumbuhan
roboh, kelimisnya batang-batang, sesaknya paru-paru
menyedot oksigen buntung, yang dibalas oleh anaknya
yang paling maju, anak yang dibimbingnya dengan
keadaan untuk berdiri secara ajaib, berpindah, dan
mencipta piranti-piranti pembantu hidupnya.
Sang penjelajah turut menyumbangkan debar gemeletar,
keringat curahan atap, kecemasan yang manis pada
jantung pisang. Apakah daku yang semampai besok tak
ditebang oleh besi olahan?
Manusia, dari awalnya, selalu mendua, dan seterusnya.


No comments:

Post a Comment