sketsa-sketsa yang keras kepala

1/18/2004

Epika Mencari Ayat Baru

Wiwitane aksara, pangroncene tembung, wiwitane
tumanduke asmara turiga, panggronjaling Hyang Maha
Suci ing kasuwargan, mandeng arsa cinipta, dadi watak,
dadi salah, dadi gumun, tempuk sarine Bapa-Biyung
nalika isih ana awang uwung nuwuhake asmara.


Deringmu tadi sore menyakiti aku lagi, sebuah
persoalan sebelum dan sesudah tidur yang utama. Aku
menyebutnya: mencari dada yang membawakan langgam.
Rasanya percuma menanam dan merawat flu ini
pelan-pelan, mengembangkannya lebih lanjut sebagai
migrain. Dengan pertumbuhannya, aku memang sempat tak
berfikir tentang kamu. Aku disibukkan dengan pekerjaan
yang jauh perlu, seperti menghirupi ingus, membuat teh
panas, dan mengganti saputangan.

Dan hampir purna, aku rasa tadinya. Tiga hari
kuperlukan untuk telat makan. Beberapa jam kubutuhkan
untuk menadah hujan, meski malam. Jas biru parasit itu
tak juga kubawa, meski ibuku selalu mengingatkannya,
selain dompet, setiap aku berangkat. Desir harunya
membawa kesuraman gugur, sewarna, meski di sini
diadopsi oleh penghujan, sebab equator meminati
dialektika. Hujan yang bertemu maghrib, betapa
sedihnya suasana. Sesuatu yang tak sehat dan membawa
paru-paru basah, dia, kupelajari dari catatan Celie
yang kubaca beberapa semester lalu. Dikabarkan, mereka
terdidik menangkalnya dengan jubah domba dan syal
songketan ibu-ibu cowboy di rumah.

Aku mengidentifikasi godamu lewat pentatonik, dan
tentu garpu tala. Tetap rendah, seperti sebelum
amandelmu diangkat. Terakhir ini aku gagal, jujur
saja. Lain tadi. Semaphore tanpa bendera, beruntung
sekali, tak menembus kaca nako saat siang gilang.
Bukannya dilapisi selaput hitam, tapi memang gerakanmu
mengangkat lengan tak berhasil menukil sulur angin.
Aku tak tersaput atau semburat jadinya. Tentu saja aku
tak menoleh. Untuk itu terpujalah diriku atas segala
batas kaca dan pintu, sementara itu. Padahal
seringkali pengasihan masih jaya, meminjam tubuh udara
atau asap obat nyamuk, menyelusup dalam strimin di
lubang-lubang udara atas jendela.

Kamu tak sadar melepas peluru-peluru itu. Kemudian
suatu masa di depan sekarang, kamu mungkin tak terima
untuk dituduh. Dirimu menganggapnya itu cuma susah
tidur karena kopi meniran. Tapi sebutmu lirih untuk
namaku, tahukah kamu, semujarab nama salib. Lalu
kiriman tahan kantukmu itu tak juga bertabrakan dengan
tangkis. Merogoh sukma, meracut sebebas-bebasnya,
memasuki tanpa salam seperti rumah kincirmu sendiri.
Mungkin saja komputer itu melabrak magismu, menelannya
terang-terang, merubahnya jadi file ramalan cinta
belaka semata-mata. Serendah itu, kemampuannya
berbatas mengolah angka dalam tanggal bulan tahun
lahir beberapa remaja iseng. Kemudian mengeluarkan
keputusan yang menyenangkan. Serendah itu, asmaragama
dihadapan bentuk dinamik ilmuwan bermata aquarium
tanpa background daun-daun.

Aku takut pulang. Tak ada di atas dalam kamarku. Mana
mungkin aku mengeremnya dengan tivi. Agenmu dia,
mengkhotbahi tentang cara mengatur waktu dan membagi
hati untukmu, perempuan teruna dengan apa yang
digairahinya. Jika kantor ini tak berpantri dan
bersatpam, aku akan meletakkan tubuh di sana.

Itupun demi kepentingan malam, kujelaskan padamu.
Itupun sudah merusak decakan tentang adaku sebagai
perental jagad, yang baru menutup mata kala matari
membuka kelopaknya. Tapi coba bayangkan, betapa
tragisnya hari depan setan, jika langkahnya mempunyai
bayang-bayang. Untuk itu aku menutup mata, meski aku
usahakan tak lengah. Satu jemaat senyap.

Kamu curang, tetapi nyatanya. Keluaran nafasku kamu
tarik dalam. Segala bagi-bagi damaiku untuk semesta
kamu miliki sendiri. Dan saat bangun, tentu saja
sebagian damaiku telah menjadi milikmu, karena itu.
Wajah komik dengan rambut bulat menebah-nebah mata,
dari awal roti bakar pagi hingga vodka kumur malam.

Wiji-wiji wis premana, tegese wis waskita marang
dunung siro tukule saka asmaragama. Elinga yen ana
cahya putih iku mono Hyang Maha Suci, yen tumetes
kabuntel manisari ambune kaya kembang jambe mekar,
neng batuk rasane mriyang, yen embun-embunan silit
kodok timabangane iku asmaragama.


Kecuali sakit, itu selalu terjadi. Maka tubuhku
kuperintahkan mengonani waktu radang normalnya.
Biasanya tiga bulan sekali aku terawang langit-langit.
Hari-hari ini, dua minggu sekali aku mempelajari
bintik-bintik eternit. Yang paling aku gemari adalah
pilek, rasanya ilustrasi wajah komikmu ikut mencair
dalam ingus. Tapi aku harus sisihkan lebih banyak uang
untuk jajan es, serta laundry baju basah sebab hujan.

Oh ya, hampir aku lupa untuk memuji dia sang berperan.
Tanpa dia, kuasa dia perempuan mungkin sarat heran.
Musim ini memang diberi nama hujan, seperti masa-masa
sebelumnya, sesudah bangsa Melayu merasa perlu untuk
membedakan dia dengan kemarau, lewat kata-kata. Ritus
pembukaan tingkap-tingkap langit, dan percobaan
blitz-blitz raksasa, dimulai kala hidup Nuh kekasih
Jehova.

Tak seperti orang-orang modern, aku tak tertarik
menghujat imajinasi Putra Celup Nil, yang diputus tali
pusarnya oleh buaya-buaya. Terlalu banyak
dongeng-dongeng yang kugemari tentang peperangan kuno,
tentang baju zirah, tentang hasta, tentang kaki belah.

Diepikkannya bahwa hujan berulang tahun tepat pada
saat bahtera, yang bermuatan beberapa pasang kelamin
dari seluruh globe, pertama kali diluncurkan oleh tuan
penciptanya, insinyur perkapalan nomor wahid pada
masanya. Jika kita rindukan air bah Nuh, yang digubah
hujan dengan kerja lembur 40 hari dan sekalian malam,
katanya, kita bisa menemukannya sekarang, saat kita
merasa perlu melihat kerang, menjemur diri seperti
tengiri, atau menyelam dalam-dalam.

Sebelum hujan runtuh dari rahim ibu langit dalam
tragedi kemanusiaan genesis, tersurat bahwa tujuh
samudera belum bertriwikrama. Lautan bebas, dan
palung, sebenar-benarnya adalah tempat pelarian dan
pertobatan sang hujan, setelah dihantui roh-roh
manusia yang tergilas lewat golakan air memasang.
Hujan mempunyai sepasang kaki yang kuat; dan itu
membantu banyak usahanya untuk memanjat. Dia juga
pecinta alam yang rendah hati, tak satupun bendera
ditancapkan, walau setiap hari Everest Raja
tertaklukkan.

Hari-hari ini, jika hujan turun di dataran tinggi
tempat mana aku tinggal, aku selalu berfikir, mungkin
si air purba sedang melepaskan kerinduannya setahun
sekali, dengan mengunjungi puncak gunung yang dulu
sempat ditimbunnya. Mengenang, bagaimana
kedigdayaannya memadamkan kawah, hingga burung darapun
linu sayapnya, tak menemukan dahan berpijak untuk
kakinya yang tak berkasut.

Bulan pada sesudahnya meradang, dicegahnya keliaran
hujan terulang, tak diijinkannya lagi air bergerak
merangkak serempak ke atas, kesemuanya harus
bergiliran memakai angkutan awan. Tapi dia tak kunjung
sakit hati. Dia tinggal setia, memberikan kegembiraan
pada mereka, yang tak merasa pilek adalah bencana,
memberikan uang saku pada mereka sepulang sekolah, dan
banyak lainnya. Bahkan saat rumahnya direndam banjir,
tak pernah makhluk-makhluk mungil ini mengumpati
hujan. Dia memberikan alasan untuk bermain perahu
dengan aman dan minus omelan. Dan tentu saja, tak
kalah serunya, dia mencetak meriang dan pilek untukku,
agar aku melupakan dendam persatuanku denganmu,
perempuan dengan dada yang membawakan langgam.

Hujan gemar pujian. Sesudah disadapnya gelombang tele,
yang memberitakan bahwa dia telah membuat Bangladesh
sebagai daerah terbasah dengan curah tertinggi tiap
tahun, begitu tegak dan jumawa jalannya. Sebagai rasa
terima kasih mendalam, hujan berjanji untuk selalu
merendam negeri itu hingga akhir zaman. Tepatnya
hingga Gabriel berhenti kursus sangkakala, dan mulai
menunjukkan kepiawaiannya.

Dengan tujuan sama, aku menceritakan keelokannya saat
ini juga, agar dia tak tertarik berteman dengan dia
perempuan. Gawat akan. Dia pemilik suasana, suara
jatuhnya bisa berubah menyerupai kecapi cinta.
Dengannya, aku tak sanggup menaikkan lengan. Bukankah
sia-sia melawan kesan? Tak ada yang bisa dilakukan
bila hujan sudah berpihak. Kabar agung akan tertutup
sendiri, janji selamat akan dilucuti, cetakan ideologi
jatuh luntur menganak-kali. Herge terbuka, hanya satu
frase dunia meloncat gagah dari misai pelaut tujuh
samudera: Sejuta topan badai!!!

Tomat.

Jum’at Wage, 18 Dulkangidah 1934

No comments:

Post a Comment