satu-persatu hal-hal di sekitarku pergi. mulai tanggal 1 oktober kemarin, tepat pada hari pancasila sakti, kulkas, rice cooker, dan kipas anginku pergi untuk selamanya. seorang pejabat mengambilnya.
beberapa hari sebelumnya dua kawan yang tak begitu dekat juga kembali ke negeranya. aku selalu menemukan sentimentalisme yang hangat dalam setiap kepergian orang-orang yang tak begitu dekat denganku. kenapa? karena kami tak begitu dekat. tak ada jaminan bahwa kami bisa bertemu lagi. untuk membikin semacam sumpah setia dan janji untuk bertemu kembai rasanya tak pantas. lha wong nggak dekat, kok? khan, lucu? lain halnya jika kami dekat. kami pasti merasa pantas dan mungkin wajib berjanji untuk bertemu kembali di hari depan. merasa pantas dan wajib menelepon satu sama lain.
hal yang sama terjadi dengan barang-barang yang kusebut di depan. sedih sekali pagi itu melihat dua petugas mengangkat mereka ke van dan pergi. aku tahu pasti kami tak akan bertemu kembali. lagi-lagi karena kami tak begitu dekat. kipas anginku, misalnya, tak pernah kupakai lagi sejak aku mendapat kerja dan mampu membayar ac. rice cooker hampir-hampir tak pernah kutengok lagi semenjak kekasihku datang. dialah yang memasak nasi untukku (terima kasih). kulkas yang mungkin paling dekat dengaku di antara ketiga barang tersebut. aku penggemar air es. tapi hubungan kami tapi jauh dari intim.
andai saja barang-barang itu dekat denganku, pasti aku akan mati-matian mempertahankannya. bila perlu, aku akan membelinya. ya, barang-barang itu pinjaman dari universitas di mana aku masih belajar sekarang, yang harus kukembalikan sebelum aku balik. namun aku tak melakukannya. rasanya tak pantas bertengkar atau menawar untuk mereka.
mungkin secara sengaja aku membikin mereka jauh denganku. seperti menabur benih sentimentalisme yang bisa kupanen pada waktunya. manusia lembek sepertiku tak mungkin bisa bertahan tanpa sentimentalisme. murahan atau mahal. sejati atau palsu.
mungkin juga ini cara menipu hatiku agar tak sedih dengan kepergian mereka-mereka yang lebih dekat. ah, kenapa aku mengatakannya? emm, hati, lupakan apa yang baru kukatakan. okay?
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment