sketsa-sketsa yang keras kepala

10/06/2004

tunggu

sudah banyak yang kubayangkan di masa-masa menjelang pulang seperti ini. salah satunya adalah mencari dan memakai kembali baju merah yang sempat kutanggalkan dan kutinggalkan di rumah. aku berharap dengan begitu nyaliku kembali lagi. hidup di sini memberiku pelajaran yang luar biasa untuk menyusun dan menjalankan strategi dan taktik yang matang. namun aku seperti kehilangan nyaliku. semakin berfikir, semakin tak bernyali.

aku selalu rindu dengan masa-masa s-1 dulu. aku tak punya banyak tanggung jawab. aku tak menciptakan banyak kebohongan. aku tak terlalu berfikir tentang resiko. aku tak takut dengan ancaman sebab aku merasa punya sedikit lubang. semua urusan denganku hanya menyangkut diriku. sekarang? aku harus berfikir tentang keselamatan bapak, ibu, kakak, calon mertua, pacar dan seterusnya sebelum melangkah. aku harus menaksir apakah musuhku tahu tentang kebohongan-kebohonganku. apakah mereka berpotensi untuk menggunakannya untuk menghancurkanku? menghancurkan orang tuaku, hubungan pribadiku, pekerjaanku dan seterusnya?

aku pengecut dan pembohong. kenyataan itu tak pernah kutolak sama sekali. dan aku tak pernah membenci diriku untuk itu. klise, terlalu sering kudengar pernyataan semacam itu.

aku jelas ingin membakar lagi. aku berharap bisa memadukan apa yang kupelajari di sini dengan api remaja. apakah keduanya bisa dipadukan? aku yakin bisa. namun banyak hal yang harus aku selesaikan dulu sebelum memulai perpaduan tersebut. aku harus menutup rekening kebohongan-kebohonganku yang aku sendiri sudah tak ingat alurnya. satu kebohongan ditutup oleh kebohongan lain. berserakan di mana-mana. ini harus diselesaikan. harus.

dan ini membawaku kepada pekerjaan yang lebih besar; menutup rekening dengan membuat rekening baru. rekening yang baru ini menuntut persatuan sampai mati. apakah aku akan mengisinya dengan kebohongan-kebohongan lagi?


No comments:

Post a Comment