tahukah kamu, pada saat-saat seperti, satu-satunya hal yang terasa nikmat sekaligus sesak adalah bermain kenapa-kenapa-an.
waktu kecil, di wc, aku baca artikel menarik di matra. artikel itu ditulis orang indonesia sedar. penulis, jika tak salah ingat, mengatakan bahwa salah satu masalah bangsa indonesia adalah suka bertanya: kenapa? sepintas tak ada masalah dengan pertanyaan ini. bangsa-bangsa besar dan kuat di dunia ini gemar bertanya kenapa. kenapa burung bisa terbang? kenapa manusia tua dan mati? kenapa ada siang-malam? dan seterusnya. orientasinya ke depan. memahami masa lalu dan sekaran untuk kemajuan di masa depan. dan seperti kita ketahui dengan kenapa yang semacam itu mereka mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
tapi kenapa bangsa kita agak lain. ingat lagu koes plus "why do you love me?" kira-kira semacam itulah kenapa kita. kenapa ini terjadi pada diriku, kenapa aku bertemu dengannya in the first place, dan ...u name it. kenapa kita bukanlah usaha untuk memahami sesuatu, menguasainya atau memperbaikinya. kenapa kita ada rintihan. kenapa kita adalah penyesalan. tatapannya ke belakang. tak ada usaha bergerak ke depan.
lalu bagaimana dengan kenapa-kenapaanku. well, harus aku akui, meskipun aku tahu ini sikap yang dekaden, aku sempat tergoda untuk merintih juga. tapi aku juga berusaha untuk memahami masa lalu, tak sepenuhnya memang, dan mencoba beranjak ke depan. aku mengharapkan kemajuan dan ... sayangnya...hehehe....tak kudapatkan.
aku alpa jika dalam masalah yang aku kenapa-kenapakan sekarang ini ada subyek lain selain diriku. dan sungguh jauh lebih sulit baginya untuk memahami, apalagi beranjak ke depan. bagiku jauh-jauh lebih mudah karena aku si pelaku, tersangka, terdakwa, dan (kini) terhukum. bad guy lah. dia adalah korban kekejian dan kebiadabanku. sleeping beauty.
nah, sekarang dia telah menjatuhkan suatu keputusan atau mudah-mudahan hukuman (karena hukuman mengenal masa). mau tak mau aku berkenapa-kenapa lagi. yang tipe merintih itu, terus terang...hehehehe. tapi aku mempersiapkan diri untuk berkenapa-kenapa yang positif. seperti yang aku lakukan saat ini. memahami sekali lagi dan semoga (god, please) secepat mungkin beranjak kembali ke depan.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment