sketsa-sketsa yang keras kepala

5/03/2006

berita baik di dwi pekan

http://www.petra.ac.id/dwipekan/Content.php?Topic=Seputar&ID=24


Dialog Cerpenis Hoa Kiau Muda Menulis
DEKATKAN PENULIS DENGAN PEMBACANYA

Apakah latar belakang etnis anda mempengaruhi karya anda?. Itulah pertanyaan yang pertama kali diajukan pada dialog cerpenis yang bertajuk Hoa Kiau (Cina perantauan, red) Muda Menulis. Acara yang digalang oleh perpustakaan bekerjasama dengan Jurusan Sastra Inggris UK Petra ini berlangsung di ruang teater Gedung B lantai 2, Jumat (24/3) lalu. Dialog yang berlangsung santai ini menghadirkan empat pembicara muda yang sudah menghasilkan beberapa buku. Mereka adalah Dwi Setiawan, Stefani Irawan (keduanya adalah dosen Jurusan Sastra Inggris UK Petra), Stefani Hidayat (mahasiswi Jurusan Sastra Inggris UK Petra) dan Lan Fang (Jawa Pos). Kepala perpustakaan, Aditya Nugraha mengatakan, acara ini sengaja dibuat untuk memperkenalkan dan mengangkat penulis-penulis muda khususnya di UK Petra dan sebagai wadah diskusi bagi penggemar cerpen.
Sebelumnya, para peserta yang sudah mendaftar akan mendapat cerpen karya empat orang ini melalui email sebagai bahan diskusi. Keempat cerpen yang didiskusikan berjudul Hoa Kiau yang Gembira (Dwi Setiawan), Tidak Ada Kelinci di Bulan (Stefani Irawan), Majenun (Stefani Hid) dan Perempuan Abu-abu (Lan Fang). Empat penulis muda ini memiliki tanggapan masing-masing tentang pertanyaan yang diajukan diawal diskusi. Dalam cerpennya yang berjudul Hoa Kiau yang Gembira, Dwi Setiawan membawa dua budaya yang berbeda. Cerpen ini bercerita tentang seorang pria keturunan Tionghoa yang beristrikan seorang Jawa dan memiliki satu orang anak. Dalam ceritanya, Dwi memasukkan dialog-dialog bahasa Jawa yang juga digunakan dalam kehidupan pria dalam cerita ini. Monolog yang disajikan menyerupai dialog adalah keunikan dari cerpen ini. Jadi, apakah latar belakang etnisnya berpengaruh pada cerpennya, masih menjadi hal yang ambigu bagi Dwi. Lain dengan Dwi, Stefani Irawan dan Stefani Hidayat mengaku tidak terpengaruh sama sekali dengan latar belakang etnisnya. Meskipun latar belakang saya keturunan Tionghoa, tapi bisa dibilang, saya sangat Indonesia, ujar Stefani Hid. Penulis muda yang dikenal dengan novelnya yang berjudul Soulmate ini mengatakan jika menulis merupakan semacam terapi psikologis baginya. Saya menulis apa yang ingin saya tulis dan ternyata penerbit bisa menerima itu, tuturnya. Lan Fang, yang baru-baru ini meluncurkan kumpulan cerpen yang berjudul Laki-laki yang Salah mengaku sangat terpengaruh dengan latar belakang etnisnya. Saya sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan budaya, katanya. Salah satu karyanya yang berisi tentang budaya Kalimantan adalah Kembang Gunung Purei.
Undangan yang hadir juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada para pembicara. Salah satunya tentang makna yang ingin disampaikan melalui karya mereka. Mereka berpendapat, bahwa jika sebuah karya sudah dilempar ke pasaran, hak dari pembaca untuk memaknai karya tersebut. Meskipun begitu, masing-masing penulis pasti memiliki pesan yang ingin disampaikan untuk pembacanya. Dwi berpendapat, pembaca sangat berpengaruh dalam prosesnya berkarya. Apa yang saya tuliskan untuk pembaca adalah campuran dari pemikiran pribadi saya dengan penulis-penulis era sebelumnya, jelasnya. Dalam prosesnya, semua penulis akan mengalami suatu pematangan. Lan Fang berpendapat, penulis pemula menuliskan apa yang mereka tahu. Tapi, setelah berproses mereka akan menuliskan apa yang mereka tidak tahu dan mereka akan mencari tahu.
Acara ini juga mengundang beberapa perwakilan dari universitas lain seperti dari Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Bhayangkara (Ubhara), Universitas Wijaya Putra (UWP) dan Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Salah satu undangan dari IAIN, Hati yang ditemui Dwi Pekan mengaku sangat antusias dengan acara ini. Jarang ada diskusi yang memungkinkan kita untuk berdialog lebih dekat dengan penulisnya seperti ini. Acara seperti ini harus lebih sering dilakukan, ungkapnya.

No comments:

Post a Comment