dengan apakah seorang pria berdamai dengan kejadian buruk yang terlanjur terjadi? bukan, bukan dengan belajar menerima kenyataan. sudah kucoba dan yang kudapat hanya sayatan-sayatan yang makin dalam. tidak, aku tak mampu berdiam diri menunggu pagi menghapusnya. satu pagi, satu garis luka. aku tak sesabar itu. atau menunggu hatiku membatu, membesi, membaja atau mentitan. qku tak yakin aku berbakat menjadi orang tangguh.
harus ada yang bisa kulakukan untuk mempercepat penyembuhan. setelah apa yang kulewati, pada akhirnya aku menemukan bahwa satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka adalah melampauinya. melukakan yang belum luka. bayangkan ketika semua adalah luka...bayangkan saja, terus bayangkan saja. bayangkan saat semuanya adalah luka. tidakkah dia berubah menjadi kebiasaan? bahkan kerutinan? seperti halnya sarapan pagi? atau sebuah sore dengan secangkir kopi?
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment