sketsa-sketsa yang keras kepala

11/06/2006

mengail saat air keruh

sabtu kemaren aku bangun sedikit lebih siang dari hari kerja; tapi terlalu pagi untuk hari libur...hehehe. waktu bangun yang langsung muncul di otakku adalah...mancing!

ya, aku belum sempat cerita di sini bahwa ternyata aku bisa mancing. waktu itu kamp mahasiswa. kawanku datang dari surabaya untuk memberi 1 sesi. dia ngajak calon suaminya. nah, waktu si calon istri lagi sibuk presentasi, si calon suami ngajak aku keluar mancing. kebetulan ada kolam pancing deket lokasi kamp.

singkat kata kami berangkat. kami mancing. seumur hidup baru kali ini aku mancing meskipun desa kami adalah desa seribu sungai. aku dah keburu berprasangka nggak mungkin orang sekompulsif aku bisa tahan mancing..hehehe... tapi, eh, langsung dapat 4-6 ekor nila! tapi sampai di situ aku masih belum yakin dengan bakat terpendam ini...hehehe... khan baru satu kali. perlu bukti-bukti tambahan.

nah, sabtu itu kayanya pas banget buat nambah keyakinan. aku ajak kawan luka tidak sebayaku. eh, dia mau. nggak lama kemudian dia datang menjemputku dengan motor legendarisnya. kita meluncur ke pacet. lewat mojokerto. sampe di rolak sanga, aku tanya dia: mancing atau minum bir? dia tanya balik. kita ketawa-ketawa. hati ini...hehehe...begitu mudah hati ini berubah.

sampe di pacet kita baru bisa mutusin: minum bir dulu. kita kan punya niat mulia pengen bawa hasil pancingan untuk keluarga kita. kalo kita mancing dulu baru minum bir, takutnya ikannya dah nggak segar waktu kita sampe rumah. kita pergi ke area pemandian air panas. di situ banyak warung-warung bir. kita pilih yang kita datangi 2 bulanan lalu. ada toiletnya sich.

habis 4 botol dan 4 kali ke toilet...hihihi....kita cabut ke kolam pancing. aku minta cacing ke penjaga. katanya nggak ada. yang ada umpan buatan mereka sendiri. kayanya campuran kacang tanah, telur dan lain-lain. umpan jenis ini nggak senyaman cacing. kalo agak kelamaan rontok sendiri di dalam air. kalo sentakan kita terlalu kenceng pasti rontok juga. mungkin ini taktik mereka biar kita nggak dapet-dapet.

ternyata taktik mereka tidak hanya itu. waktu umpan kita lempar ke dalam air, yang menghabiskan bukan sang nila, tapi ikan hitam kecil-kecil. ikan hitam ini gesit sekali. setiap sang nila mendekat, umpan itu sudah mereka habiskan. cepet banget makannya. kalo posisi sang nila dan si hitam sama-sama dekat dengan umpan, sang nila selalu mengalah. gara-gara ikan hitam ini, yang aku curiga sengaja ditanam pengelola kolam pancing, dua jam aku baru dapat 1 ekor nila. kawanku malah nggak dapet sama sekali. saking frustasinya, dia memutuskan untuk berhenti dan hanya membantuku menyiapkan umpan.

kami sudah kelaperen. akhirnya kami minta mereka ambil dan bakar 2 gurami untuk kami. Eh, sementara menunggu, aku malah terus-terusan dapet ikan. 3 ekor! rasanya tiba-tiba jadi gampang banget. aku tanya ke masnya apa gurami pesenanku bisa dibatalkan...ganti nila hasil tangkapanku...biar ngirit gitu. soalnya ikan yang sudah terlanjur kepancing tidak boleh tidak dibeli. dia bilang nggak bisa. sudah terlanjur dibakar.

waktu gurami kami datang, kami langsung lemes. besar banget. tahu gitu pesen 1 aja untuk berdua. perut kami masih terlalu penuh dengan bir. memang pada akhirnya aku berhasil menghabiskan guramiku. tapi itu karena aku makan nasi cuma sedikit. kalo kalian pernah dekat denganku, pasti kalian tahu bahwa ini adalah sebuah keajaiban...hehehe...kawanku cuma sanggup ngabisin separo guraminya. separonya minta dibungkus.

lalu bagaimana dengan 4 ekor nila tadi? aku suruh masnya masak sekalian. kalo aku bawa pulang mentah nggak ada yang masak. 2 digoreng, 2 dibakar. tepat pukul 4 kami meninggalkan kolam itu. dengan dendam, tentunya...hehehe....next time kita bakalan lebih sabar dan ekonomis. soalnya abis cukup banyak dink.

sampai di rumahku, eh, ternyata ada kakakku, suaminya, nenekku, omku, dan tanteku. mereka langsung menyerbu ikan-ikan tangkapanku. mama juga. papa lagi keluar. tapi masih sempat menikmati separo nila goreng waktu pulang.

kawan-kawanku, kejadian-kejadian kecil nan manusiawi inilah yang terus menguatkanku.

No comments:

Post a Comment