sketsa-sketsa yang keras kepala

8/02/2007

k2dua

salah satu hal penting yang kupelajari dari hidupku yang belum lama ini adalah selalu percayai yang kedua. bukan karena aku anak yang kedua atau nama depanku menunjuk ke angka itu. pengalamanlah yang mendidikku. bukan pengalaman khas si pembangun sebuah dinasti, sebenarnya. banyak orang yang sudah membahasnya dan, lumrahnya, sudah mengalaminya.

prinsip percayai yang kedua terutama berlaku dalam hal berfikir. menurut salah seorang filsuf jerman yang aku sungkan menyebutnya di sini, percayai hasil pemikiran kedua. pemikiran pertama biasanya kurang obyektif. kita masih terlalu dekat dengan obyek yang harus kita sikapi. emosi dan perasaan masih hadir dalam takaran yang gigantik. tak banyak informasi yang bisa kita kumpulkan. pada pemikiran kedua, jarak kita dengan masalah sudah lebih jauh namun juga tidak terlalu jauh. emosi hadir dalam proporsi yang pas. kita juga punya waktu lebih untuk memasukkan beberapa pertimbangan penting.

(itulah kenapa aku sering mengingatkan di jurnal ini: tidurlah barang semalam sebelum melakukan tindakan besar)

kenapa tidak yang ketiga? bukankah jarak semakin jauh? emosi semakin kempis? pertimbangan semakin banyak. justru itulah masalahnya. jika jarak semakin jauh, kita tak bisa lagi melihat masalah dengan jelas. kabur atau bahkan hilang sama sekali. tanpa emosi yang cukup, kita bahkan akan terlalu malas untuk berfikir. biasanya kita malah memilih untuk melupakannya. terlalu banyak pertimbangan hanya menjadikan kita pengecut.

hal mempercayai yang kedua juga berlaku dalam membaca masa depan. sang alkemis pernah berkata dalam suatu dialog interaktif dengan santiago sang gembala di sebuah gurun swasta: "apa yang terjadi satu kali tidak bakal terjadi lagi. tapi apa yang terjadi dua kali, pasti akan terjadi untuk ketiga kali". kita tak bisa menebak masa depan hanya gara-gara satu kejadian saja. kita tak bisa memperkirakan masa depan seseorang gara-gara satu kesalahan. apakah dia akan jadi begal, kecu, bajak laut? kita belum tahu.

pada kesalahan pertama besar kemungkinan sang subyek memang belum tahu tentang atau belum mempunyai kemampuan untuk menghindari kesalahan tersebut. itulah sebabnya ada kata-kata bijak: "setiap orang layak mendapat kesempatan kedua". tapi jika setelah mengetahui atau mempunyai kemampuan, dia masih melakukan kesalahan yang sama, selamat! kita tengah berhadapan dengan apa yang disebut sebagai karakter...hal yang paling sulit diubah di muka bumi ini setelah nasibku...hehehehe.....yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya hanya masalah waktu belaka.

berhenti dulu. aku harus memikirkannya sekali lagi.

No comments:

Post a Comment