sketsa-sketsa yang keras kepala

11/16/2007

rosefield dan gereja


dengan surat naso di dalam ranselku, aku terbawa menuju rosefield. perjalanan ini seperti kematian. perjalanan menemui kawan lama. perjalanan menuju sorga. semua begitu sepi. bersihnya mengerikan. anginnya menenggelamkan. cahayanya redup senja, meski di jam ini matahari masih meronda.

sorga, kawan-kawan, adalah kebalikan penuh dari yang kita punyai hari lepas hari. sebab itu, bagiku, kawan-kawan, sorga adalah sebuah pedesaan di dunia yang kalian sering sebut pertama.

aku tersuruk di rosefield. stasiun desa. kuhisap semua. kulihat segala. kumasukkan semua. tak lama kemudian sorga yang lain memanggilku. sorga yang lebih besar. sorga yang kukejar. aku sudah sampai, joong il. kemana aku harus pergi? dia menyuruhku keluar dari stasiun dan menuju ke halte di depannya.

kuletakkan tabung tembakau berhulu ledak api di mulutku. joong il menelpon kembali. katanya dia sudah melihatku. mutan ini. aku tak boleh bergerak. dia yang akan menjemputku. dia tersenyum. bajunya putih-putih. ditinjunya aku, seperti dulu. vampir ini. katanya: mari, kutunjukkan gerejaku.

ke gereja? jangankan kalian, aku sendiri tak percaya. aku tersalib di bangku gereja. mendengarkan apa yang tak kumengerti. melihat apa yang tak kumengerti. tapi beberapa waktu kemudian aku mendengar apa yang ingin kudengar, meski tetap tak kumengerti. melihat apa yang ingin kulihat, meski tetap tak mengerti. apa kalian tahu bahwa bukan malaikat saja yang bisa menyanyi dan menari, tapi juga sorga sendiri?

malam bersendawa. senja terkunyah. orang-orang masih bernyanyi dan menari di dalam. kami duduk di bawah oak tua persis di depan pintu gereja. gereja yang janggal. orang keluar masuk kapanpun dia mau. orang mengambil jeda sesuka hati. aku memuji penampilannya. joong il sibuk menyangkal dan tersenyum senang. kami berebut menghabiskan tabung itu yang tinggal satu, seperti dulu.

***

malam paskah. aku menangis dalam kegelapan. kesesakan, kesesakan kembali. kekecewaan, kekecewaan sekali lagi. aku tak bisa mengerti. kudapatkan setiap sorgaku dengan ketekunan dan kerja keras, setekun dan sekeras seorang laki-laki mampu lakukan. tak pernah ada yang cuma-cuma bagiku.

sementara kulihat di bawah matari ada seorang laki-laki memungut sorga begitu saja. tiba-tiba dia menemukan dirinya di waktu dan tempat yang tepat. tiba-tiba dia menemukan dirinya tengah melangkah pergi dengan ringan. tapi, hei, sebentar, sepertinya aku pernah melihat punggungnya.

sebelum aku mengingat kembali laki-laki itu, cahaya berhamburan masuk ke kamarku. joong il masuk dan berbaring di sebelahku.

“selamat paskah, judas,” bisiknya.

No comments:

Post a Comment