sketsa-sketsa yang keras kepala

11/18/2007

kamar adik joong il dan menulis


joong il memberiku kamar yang terbaik di rumahnya. melihat ukuran dan kerapiannya, ini pasti kamar adik perempuannya. tentu saja sebagai korban terbaik dari peradaban jawa aku menolak kenyamanan itu pada awalnya. dan dengan menggunakan pendekatan yang sama joong il berhasil membujukku untuk menerimanya. katanya dalam budanyanya adalah kewajiban bagi tuan rumah untuk memberikan yang terbaik dari yang mereka punyai kepada tamu. dan jika tamu itu menolaknya itu akan mencederai perasaan tuan rumah sebab itu sama dengan menuduh bahwa tuan rumah tidak memberikan yang terbaik untuknya.

aku jadi teringat pada perayaan ulang tahunku yang ke 25 di sydney. kawan-kawan koreaku bersikeras untuk menanggung segala keperluan perayaan itu. kata mereka sudah menjadi adat mereka untuk mentraktir yang ulang tahun. mereka juga yakin bahwa itu sudah menjadi kebiasaan universal juga. di thailand begitu. di china begitu. di amerika juga begitu. mereka kesulitan menerima pernyataanku bahwa di budaya kita yang ulang tahun yang menanggung. budaya yang aneh, timpal mereka.

akhirnya jang seob, pemimpin alami kami, menawarkan jalan tengah. aku bisa membelikan masing-masing dari mereka 1 gelas bir dan 1 pak makanan ringan di bar dekat restoran sushi tempat joong il bekerja. setelah itu aku harus membiarkan mereka menanggung apapun yang akan kami lakukan (makan malam di restoran korea, menyanyi di karaoke korea, nyamil dan minum kopi di darling harbour, dan duduk2 di lobi kasino menunggu kereta pagi). aku setuju saja sebab uang sakuku waktu itu cuma tinggal 500 dolar belaka sementara aku masih harus bertahan di sana untuk 2 minggu...hehehe

kembali ke kamar adik joong il, aku betul-betul menyukainya. kamar itu letaknya paling tinggi. di atap rumah. dari situ aku tak perlu mendengar lolongan-lolongan anjing. asal tahu aja bapak joong il menghidupi keluarganya dengan menjual daging anjing...hehehe. selain jauh dari lokasi pembantaian anjing, jendela kamar itu menyuguhkan pemandangan yang tak kalah memilukan dari apartemen di mana aku menemukan surat-surat yang publisu naso mustahil kirimkan lewat pos. dari situ aku bisa melihat ratusan kolam dengan ribuan angsa liar.

ini adalah sorga bagi orang yang bermimpi untuk menjadi menulis. aku berhasil menambah beberapa paragraf untuk ceritaku di kamar ini. ini adalah satu capaian, asal tahu saja. entah kenapa aku merasa begitu mudah menulis di jurnal tapi selalu berdarah-darah setiap berusaha menyelesaikan sebuah surat dan cerita. aku berharap aku bisa pulang dengan paling tidak 5 surat yang mustahil kukirimkan lewat pos dan 1 cerita formal. mimpi tergila ini (menjadi penulis) harus digenapi, seberat apapun yang harus kutempuh.

sementara itu aku juga terhibur dengan mengingat keadaan tulisan-tulisanku sebelum aku menghindar sejenak ke ranah ini. terakhir aku mendengar dari editor jurnal ilmiah itu bahwa tulisanku dan dan salah seorang kawan tentang film babel akan diterbitkan tahun depan (terima kasih untuk arun meni yang menemaniku memperhatikan film itu). draft terakhir cerita pendekku yang berjudul arun meni sudah kukirimkan ke beberapa kawan dan mendapat tanggapan yang hangat (terima kasih untuk onie dan carol). draft yang sama kini juga berada di tangan profesor budi darma. ini pertama kalinya aku menunjukkan tulisanku ke beliau. semoga bukan yang terakhir. jika ada masalah dengan cerita ini, itu lebih datang dari diriku sendiri. aku masih belum yakin akan menerbitkannya atau tidak. terus terang aku masih trauma dengan kejadian tahun lalu saat divina menganggap semua yang kutulis dalam ceritaku betul-betul terjadi.

demikianlah kekuatan sebuah tulisan, selemah apapun kualitasnya dan penulisnya. tapi, mimpi tergila ini harus digenapi, apapun yang harus kuberi.

No comments:

Post a Comment