.jpg)
tinggal aku, sebotol air cola dan sebungkus tabung tembakau berhulu ledak api. joong il mungkin sudah meninggalkan bandara ini, mungkin juga masih sibuk menghentikan derai-derainya. sejarah telah terulang kembali. 2 tahun yang lalu joong il juga yang melepasku kembali ke dunia yang menarik. bedanya waktu itu dia menyewa taksi, tapi kali ini dia memboncengku dengan skuternya yang lucu. 2 tahun yang lalu joong memelukku di pintu masuk dan menangis tersedak-sedak hingga beberapa pasang mata menatap kami dengan pandangan seolah-olah kami adalah pasangan gay. bedanya kali ini dia tak perlu melihatku bertengkar dengan bule petugas yang tak tahu adat.
joong il adalah orang yang membuatku percaya kembali kepada hal-hal yang sudah ditinggalkan kertas dan tinta. dia membuatku percaya kembali pada kemanusiaan, persahabatan sejati, cinta kasih, penghargaan, hormat, perhatian, drama, tragedi, komedi, dan hal-hal jompo lainnya yang pingsan di lipatan-lipatan kitab-kitab tua, yang kini hampir selalu di-ghetto-kan di toko-toko buku, didiskon berulang kali sampai akhirnya disumbangkan ke perpustakaan kota, dan dighetto-kan kembali di sana. joong il membuat amsal-amsal menjadi bermakna kembali, meskipun dia tak pernah berniat menjadi nabi.
dan semua itu cuma berawal dari gulungan sushi:
"aku adalah perantau miskin, saudara. datang dari negeriku dengan beasiswa. bukan karena aku pintar, tapi karena aku melarat. aku datang demi selembar kertas yang bisa merubah jumlah digit dalam slip gajiku."
"aku juga perantau miskin, saudara. aku datang untuk bekerja. gereja membantu kepergianku. 9 bulan yang lalu aku adalah kuli kapal pesiar. kemudian aku pindah ke pabrik kotak makanan dan sekarang aku pelayan restoran sushi di kota. apakah saudara suka sushi?"
"sushi? terus terang aku belum pernah mencobanya. kata orang-orang itu ikan mentah. aku takut muntah. ah, sebenarnya aku hanya tak punya uang untuk pergi ke restoran jepang. eh, tahukah saudara bahwa makanan cepat saji adalah kemewahan di negeri kami? musik kaum miskin di amerika jadi musik miliarder di negeri kami. aku masih bisa menyebutkan yang lain, namun aku tak ingin membuat saudara bosan."
"tidak, tidak, tentu saja tidak...mmmh... apakah saudara mau mencoba sushi-sushi dingin ini, mungkin beberapa sedikit basi?"
"ya, apa salahnya, tentu, terima kasih. jangan khawatir, di negeri ini kuantitas bagiku selalu lebih penting dari kualitas. bolehkah? hmm, mungkin yang kecil ini dulu. ayam, ya? aku akan coba yang ikan...mentah... itu nanti, bolehkah?"
"tentu, tentu, saudara. jika saudara suka, aku akan membawa lebih besok dan...mungkin setiap hari. restoranku hanya menjual sushi yang segar. banyak sisa setiap malam."
dan tiba-tiba perjalananku menjadi jauh lebih tertanggungkan. setiap kesesakan mencekamku, aku akan meneleponnya sebentar, menanyakan apakah dia mau menemaniku malam ini. kemudian aku akan berjalan ke halte, menunggu bis ke bondi junction. setelah itu membeli karcis kereta terakhir ke kota. berjalan dari town hall ke pitt street. menyapanya dari balik jendela, memberitahu bahwa aku telah datang. dengan kesabaran seorang kawan, aku akan menunggu sampai restoran sushi itu tutup. lalu kami akan berpelukan lazimnya dua gangster yang bertemu, melompat-lompat dan pergi ke manapun kami suka.
biasanya kami akan pergi ke bar di pojok pitt street, di seberang gloria jeans. bar yang sepi. tak pernah ada lebih dari 10 pengunjung. tak ada live music. tak ada disko dari stereo. yang ada hanyalah bar, beberapa tivi, dan meja-meja kecil tinggi bundar. kita akan membeli bergelas-gelas victorian bitter, bir murahan yang diakrabi perantau-perantau miskin dari asia. kami akan berbicara tak ada habisnya dan hanya berhenti untuk jeda toilet. kami akan saling memuji satu sama lain. kami akan menentramkan satu sama lain dan, tak kalah seringnya, menangis bersama. ya, di dunia yang kejam terhadap laki-laki ini, kau hanya diizinkan menangis saat mabuk saja.
atau kami pergi ke darling harbor. kami akan mampir dulu ke bottle shop membeli satu tas plastik victorian bitter. kita akan menenteng tas plastik itu bersama. joong il memegang satu ujung dan aku ujung lainnya. sesampainya di sana kita akan duduk di undak-undakan kayu. biasanya yang paling bawah. lalu dia akan mengeluarkan beberapa kotak sushi dingin dari tasnya. aku menggelar kaleng-kaleng itu di dekatnya. seperti orang berpiknik pokoknya. kami akan minum sembari menyantap sushi sembari melihat bayangan ubur-ubur hitam di bawah kaki kita. di darling harbor, yang kami bicarakan hanya luka dan luka. tak ada pujian, penghiburan. kadang-kadang kita juga menyanyi lagu yang sama-sama kita tahu, meski pada akhirnya tak pernah bisa tuntas menyelesaikannya.
kadang-kadang kami pergi ke taman dekat queen victoria. kami akan duduk di salah satu bangku-bangku merah bundar. kami tak pernah minum di sana. biasanya yang kami lakukan adalah merokok tanpa putus. kadang-kadang aku memintanya memijit pundakku. dia selalu melakukannya meski dengan keterpaksaan yang jelas. kami suka menggoda satu sama lain di sana. dia menggodaku tentang eun ji. dan aku menggodanya tentang juliana. kami tak pernah bosan melakukannya meski kami sama-sama tahu bahwa kotak hati kami bagian itu tertinggal di rumah.
kadang juga kami pergi ke halte bis yang akan langsung membawaku kembali ke bondi. kami akan berjalan pelan-pelan, berusaha membicarakan hal sebanyak mungkin. kebanyakan hal remeh-temeh. tak ada pujian, penghiburan, ataupun luka-luka. saat sampai di ujung hyde park, kami akan berlari dan berlari, berusaha mencapai bis 308 yang akan segera meninggalkan halte. jika berhasil, kami akan melambaikan tangan dengan tentram. jika gagal, kami akan duduk menunggu 308 selanjutnya di halte itu selama satu jam.
segalanya jauh lebih mudah saat joong il ada di dekatku. kabar baik sekaligus buruknya adalah dia muncul hanya saat aku dalam kesesakan saja. aku pernah curiga dia adalah sejenis dengan jonathan, malaikat baik yang dulu selalu kutonton siang-siang. datang, menolong dan pergi. atau hulk. atau siapapun yang sejenis dengan jagoan-jagoan itu. tapi jika aku sekarang meninggalkannya lagi, itu bukan berarti aku sudah lepas dari kesesakan sama sekali. keadaan seperti itu bahkan mungkin tak pernah ada di dunia yang menarik ini. mungkin lebih tepat jika kukatakan aku sudah siap untuk dipalu kembali...cie...hip, hip, huray! ini dadaku, mana dompetmu...hehehehe.
tinggal aku, sebotol air cola, sebungkus tabung tembakau dan lambang garuda indonesia, yang baru saja terlihat di kejauhan, yang selalu memunculkan perasaan bangga yang tak jelas, dan yang mengakhiri satu lagi pembuangan.

No comments:
Post a Comment