pendekar yang berjuluk si tangan nitro itu meninju perutku saat aku baru memasang kuda-kuda untuk jurusku yang ke 15, jurus pamungkas. yang kutahu kemudian tubuhku terbebas dari hukum gravitasi untuk beberapa waktu sebelum kemudian menindih bumi macam orang berahi. aku tak punya kesempatan untuk menghitung dengan teliti berapa tulang igaku yang patah. yang jelas tak mungkin di bawah lima. sayup-sayup kudengar ratu bunga memanggil-manggil namaku dengan cemas. aku sudah hampir bangkit dari posisi memalukan itu saat si tangan nitro bergegas menghampiri dan melesakkan tangannya kembali.
aku tergeragap dan berteriak tertahan. tiba-tiba dunia di sekelingku berubah sama sekali. pandanganku dipenuhi seplastik bibir yang teramat puitik. terpikir aku akan mulut sorga. jika sorga mempunyai pintu, pintu itu harus serupa bibir itu. apakah ini kematian, ya, ratu bunga? kukerjapkan mata beberapa kali. dunia itu lalu berubah lagi. kulihat wajah chika yang meringis nakal. beberapa kerjapan kemudian mulai kulihat dua tangannya yang masih menggenggam di depan dada seperti petinju kelas bulu.
saat kesadaran memenuhiku, aku langsung menarik selimutku yang sudah turun hampir ke bagian itu. kuambil bantal di belakang kepalaku dan kututupkan ke mukaku. chika terkekeh-kekeh seperti nenek sihir tanpa sapu dan kuali. aku menyumpah-nyumpah dalam hatiku. bagaimana bisa gadis kolokan ini bisa menemukan rumahku, masuk ke kapsulku dan bahkan melihat itu? apa yang dilakukannya hingga bisa menembus barikade ning sumi, mak dan mama? namun siapa yang bisa melawan gadis yang tak pernah mengenal penolakan, yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan?
chika memanggilku lagi dengan suara yang membuatku menekan bantal lebih dalam ke mukaku. dia sudah berhenti memukuliku kali ini. dia mengguncang-guncang dadaku pelan. dan tiba-tiba aku ingin kehilangan seluruh kemampuanku untuk berjalan. aku ingin menjadi pemalas tangguh yang mengisi hidupnya dengan tidur-tiduran. pikiranku terlempar kembali ke suatu ritual yang sempat hilang dari hidupku untuk beberapa waktu. kapan dan siapa gadis yang terakhir kali menuntunku pelan-pelan dari delta, theta, alpha dan beta? jagad pramudita, aku tak mampu mengingatnya.
ketika bantal itu kubuka, aku hanya mampu memanjatkan hai saja. harusnya aku bisa mempersembahkan doa, pujian dan syukur kepadanya. dia tersenyum seperti venus yang baru lulus sma. pintu sorga itu. pintu itu lagi. hanya suara kering ning sumi di luar yang masih bisa menahanku untuk tak menarik dan mengajaknya melukis suara yang basah. hanya itu saja.
ketika aku menunjuk pintu dengan daguku, chika merajuk dan malah duduk di sisi ranjangku. aku berkata dengan mulut yang hampir tak terbuka: aku tak mengusirmu. aku harus memakai celanaku. dia baru mengerti, tersenyum lagi sebelum kemudian pergi. saat aku keluar kamar, kutemukan dia sudah bercengkerama dengan mama, mak dan ning sumi di ruang keluarga. begitu akrab, seolah-olah dia adalah salah satu dari sepupuku terkasih. chika bahkan sudah berani melingkarkan tangannya ke tubuh mama beberapa kali. dan ketiganya bahkan berani berteriak kepadaku: cepat mandi!
sihir apa ini? ketika aku melewati mereka untuk menuju ruang air, aku mulai memecahkan ramuannya. mama dengan sekotak pasta. mak dan ning sumi dengan sekerat pir. chika yang tak pernah dilukai oleh kehidupan. chika yang menghisap apapun dan siapapun di sekitarnya. dan kau, mama, hanya karena sekotak pasta kau jual kehormatan jagoanmu? dan kalian, mak dan ning sumi, sekerat pir ganti cucu dan majikan kesayangan kalian?
tak perlu kuceritakan apa yang kulakukan di ruang air. aku lebih peduli dengan hilangnya nasi goreng dan kopi di meja makan. aku merasa berhadapan dengan persekongkolan jahat. bukan dia, tapi kata mereka: cepat pergi. makan saja di perjalanan. nanti keburu siang. pergi? perjalanan? keburu siang? dan aku merasa lebih terjual lagi saat aku digiring masuk ke mobilnya, melihat dia mencium mama, mak dan ning sumi, melihat mereka melambaikan tangan dengan tertawa.
(bersambung, sesuai dengan jumlah bingkisan natal)
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment