ah, cika. percayalah, aku bisa mengungkapkannya dengan lebih tragis. aku menyimpan berlembar-lembar cerita semacam itu di dalam ranselku. tapi, pentingkah itu bagimu? bukankah kamu hanya ingin didengar sekarang? bukankah lebih baik jika aku tetap diam dan tersenyum tulus saja?
dan...semakin lama kamu bertahan, semakin kamu menyakitinya? semakin kamu berusaha menerimanya, semakin kamu merasa telah melakukan ketidakadilan kepadanya? dan satu-satunya jalan yang tinggal adalah menyakitinya satu kali saja dan secepatnya?
ah, cika. aku dididik untuk lebih puitik dari itu. dan, jika kamu baru memikirkannya, aku telah dikutuk untuk berkali-kali melewatinya. kadang dengan kekejaman yang manusiawi. dengan memenggalnya begitu saja. dengan kehalusan yang ngeri. kadang dengan membuatnya merasa beruntung telah melepaskan diri dari pendarku. argh, hatiku yang tak mau memberi. hatiku yang tak mau berhenti. tapi, tapi, pentingkah itu bagimu? bukankah kamu hanya ingin didengar sekarang? bukankah lebih baik jika aku tetap diam dan tersenyum tulus saja?
aku ingin mendengarmu sampai kita kembali, seperti saudara-saudara di efesus, kepada kasih yang mula-mula. lalu, seperti pejuang yang telah bebas itu, berkata: "for i am now ready to be offered, and the time my departure is at hand. i have fought a good fight, i have finished my course, i have kept the faith.

No comments:
Post a Comment