syukurlah semua berjalan tak jauh dari harapanku. aku belum tahu hasil umpan balik tertulis dari mahasiswa tentang materi yang kuberikan. tapi berdasarkan pengamatanku mereka memahami sebagian besar materi itu. ini yang paling penting. tentu saja aku berharap mereka juga bisa menikmati yang kusampaikan. namun menghibur bukanlah tujuan utamaku.
sebelumnya aku sempat khawatir saat mendengar informasi dari tim materi menjelang keberangkatan bahwa para peserta kurang memahami bahasa konseptual. mereka terlihat bingung saat pembicara di hari sebelumnya menggunakan beberapa istilah formal. tim materi tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat mahasiswa ini mendengarkan aku, yang menurut tim materi kerap menggunakan "bahasa dewa". masalahnya aku sudah tak punya waktu lagi untuk mengedit sebab aku menjadi pembicara pertama. aku berjanji untuk sebanyak mungkin mengklarifikasi istilah yang kupakai dan memberikan contoh-contoh yang konkret.
masalah yang lain adalah aku merasa melayang-layang. mungkin sudah kutulis pada entri sebelumnya saat menunggu hujan reda di warung, cak to memberiku satu gelas kopi lagi. akibatnya aku kesulitan memejamkan mata malam sebelumnya. praktis aku hanya tidur selama 1,5 jam saja. sepanjang perjalanan aku mencoba untuk tidur tapi tak bisa juga. selain menjadi pembicara pertama, aku juga harus mengisi dua sesi secara langsung. kopi tak ada dan merokokpun tak sempat. di larang merokok di dalam lokasi bukit doa! setiap dorongan itu datang aku harus pergi keluar pintu gerbang, yang berarti merayapi jalan mendaki sepanjang ratusan meter. entah bagaimana aku merasa menemukan sedikit kelegaan dengan berulang kali menghirup air kemasan.
selesai presentasi, aku langsung mempersilakan diriku sendiri ke kamar yang disediakan untukku. dan aku tak kunjung muncul sebelum maghrib tiba. hujan menderum-derum seperti truk tua. dengan demikian gagal sudah impianku untuk melihat meteor. tapi aku menemukan kegembiraan yang lain dengan bertemu dan mengadu rasa dengan kawan-kawan lamaku yang diundang juga sebagai pembicara. yang seorang diundang sebagai alumni sukses. yang satu lagi sebagai pendeta. sang pendeta muda ini dulunya adalah kawan gila-gilaanku di hima. bolehlah jika kami menyebut diri kami waktu itu sebagai anak-anak yang hilang.
kehidupan memainkan tipuan-tipuannya yang menarik. dan inilah kami sekarang. yang satu mendekap, yang lain menatap. aku menyukai khotbahnya. dia pandai benar. oleh karenanya setelah khotbah selesai aku menanyakan salah satu pertanyaan yang sering menggangguku selama dua tahun terakhir: bagaimana membedakan ujian dan pertanda? jawabannya patut kurenungkan untuk 2 minggu ke depan.
okay, tugas mendesak selanjutnya adalah mengawal peralihan kurikulum, membuat beberapa keputusan seputar perkuliahan dan memanfaatkan ekspo akhir bulan sebaik-baiknya. oya, mencetak katalog juga.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment