sketsa-sketsa yang keras kepala

1/29/2008

jatuhlah!

capek tapi senang. baru saja menyelesaikan materi untuk camp mahasiswa besok dan lusa. sebenarnya panitia sudah memberitahuku jauh-jauh hari tapi karena tumpukan pekerjaan aku baru bisa menyentuhnya pagi ini. sengaja aku mengambil cuti hari ini. selain istirahat setelah menyelesaikan katalog jurusan, aku ingin berkonsentrasi menyelesaikan materi ini, yang tak mungkin kulakukan di kampus.

awalnya aku kebingungan tentang apa yang harus kusampaikan. guideline dari panitia memberiku keleluasaan. tapi ini menimbulkan kesulitan khusus sebab aku harus menentukan fokus sendiri. aku bingung harus memilih bentuk narasi atau deskripsi. narasi memiliki kekuatannya sendiri. siapa yang tak suka membicarakan dirinya sendiri? siapa yang tak suka mendengar cerita pengalaman seseorang? tapi, dengan narasi, banyak yang akan didengar tapi sedikit pemikiran yang akan diingat. deskripsi sebaliknya. mungkin lebih membosankan bagi pembicara dan pendengar. tapi banyak pemikiran yang bisa disampaikan dan diingat.

belum bisa memulai, aku melarikan diri ke warung cak to. dalam perjalanan aku mulai memunguti bagian-bagian kerangka awal materi. sampai di sana aku mulai mengetik di mobileku. seorang kawan menyarankanku untuk menggabungkan narasi dan deskripsi. ya, kenapa tidak? sebagai kerangka besar, aku menggunakan deskripsi. tapi untuk setiap pokok pemikiran aku memberikan contoh dari pengalaman kuliahku dulu. setelah itu kata-kata mulai runtuh sekeras hujan yang menahanku di warung itu sekitar 2 jam lamanya.

sampai di rumah, aku langsung memindahkan kerangka itu ke komputer dan menyelesaikannya dengan jeda makan dan mandi. mungkin akan kulihat lagi besok pagi jika sempat. mudah-mudahan semuanya sesuai dengan yang kuharapkan. aku selalu menyikapi urusan kemahasiswaan seserius hal-hal lain dalam pekerjaanku. aku tahu bagaimana sebuah pemikiran yang diterima di masa kuliah bisa mengubah hidup. banyak atau sedikit orang. sebentar atau selama-lamanya. secara signifikan atau terbatas.

di luar itu, aku senang bisa kembali ke bukit. meninggalkan surabaya yang semakin seragam saja. bercanda dengan manusia-manusia yang tengah mengalami masa terbaik dalam hidupnya, mungkin tanpa mereka sadari. berbaring di atas rumput basah sembari melihat sebaran bintang yang cemerlang. berharap melihat dua bintang jatuh seperti tahun lalu dalam kesempatan yang sama. kali ini bukan untuk berdoa menutup sebuah kisah, tapi memulai yang lain.

jatuhlah!

No comments:

Post a Comment