sketsa-sketsa yang keras kepala

1/24/2008

lebih baik sakit hati ini


seharian kemarin yang kupikirkan adalah bagaimana menampar pipi kanan megi z sepuasnya. dan jika ia memberikan pipi kirinya juga, demi tuhan, aku tak akan menyia-nyiakannya. ini bukan soal iseng, sado masokis dan semacamnya. ini urusan tergawat di bumi manusia: sakit gigi. aku butuh memikirkan sesuatu hal untuk mengalihkan deraan-deraan di lintasan-lintasan syarafku.

terpaksa kulewatkan pertemuan dengan tim penyusun katalog di kampus. sungkan sekali, sebenarnya. tapi mau bagaimana lagi? sekali lagi, ini urusan tergawat di muka bumi. aku khawatir jika tiba-tiba aku melihat megi z di wajah-wajah bapak-ibu mantan dosenku yang begitu kuhormati.

waktu membawaku bersitatap kembali dengan drg angela, dokter gigi di poliklinik kampusku. sudah berkali-kali beliau mengeluarkanku dari kengerian ini. aku sangat percaya dengan kemampuannya. selain itu, kami kenal cukup baik. beliau pernah menjadi muridku dalam sebuah program training untuk pegawai kampus. satu-satunya yang jadi persoalan bagi pegawai yayasan sepertiku adalah aku harus membayar...hehehehe...bu angela yang baik tak menerima askes.

sebenarnya aku bisa pergi ke dokter askesku dekat rumah. tapi aku tak pernah bersitatap dengan beliau. beliau sudah sangat sepuh. mama pernah bercerita bahwa beliau sudah menjadi berpraktik waktu mama masih sekolah dasar. aku sering membayangkan beliau keliru mencabut lidahku, dan bukan gigiku. aku tahu ini sama sekali tak adil. tapi sekuat apapun aku melawannya, aku tak mampu menghilangkan bayangan itu. jika aku memilih beliau saat mengisi formulir askes, itu karena alasan sentimentil bahwa beliaulah malaikat penolongku saat aku menghadapi masalah yang sama di masa kecil.

drg angela memvonis bahwa urusan ini sudah tak bisa diselamatkan lagi. dan aku sama sekali tak berkeberatan. mati, matilah kau! aku bahkan tak peduli dengan kata-kata kawanku bahwa gigi berhubungan dengan memori otak. biar, biar hilang sekian byte memori di otakku. cuma aku berdoa semoga itu memori yang berisi kejadian-kejadian buruk saja...hehehe.

yang kubenci dari laku proses ini hanyalah dua hal. satu, jarum bius yang ditekan dalam-dalam dua kali. dua, dua poin dalam instruksi sesudah pencabutan yang melarang pasien untuk minum-minuman panas(oh, kopiku yang mulia!) dan puasa merokok selama 1 hari (duh, korban bakaran yang suci!)

kini, saat aku menulis ini, aku merasa menjadi manusia lama dan baru pada saat yang bersamaan. bersemangat kembali seperti hari-hari lalu. kehilangan separuh kenangan-kenangan buruk di otakku.

alrite!

No comments:

Post a Comment