tadi malam menginap di kampus. mahasiswa perhotelan mengundangku untuk tidur di hotel mereka dan menjadikanku semacam obyek pelayanan (btw, kata pelayanan selalu mengusik syaraf-syaraf sado masokisku). sayang sekali yang tersisa adalah business room. cuma dapat koran bisnis belaka. yang aku impikan sebenarnya jika bukan romance room (untuk suami-istri, dan tentu saja aku langsung terdiskualifikasi) atau entertainment room. yang terakhir ini ada dvd-dvd baru & playernya.
aku mengajak salah satu kawan di kantor. perlukah kusampaikan di sini bahwa dia laki-laki? enak, ada kawan ngobrol. selain itu ada kawan meringankan rasa takutku yang melegenda. kata orang, hotel itu agak spooky hehehe. dan...kami bercengkerama sampai malam. utamanya membicarakan lingkungan kerja kami yang tambah hari tambah surealis saja. kawanku meringkuk tepat pada jarum 1. seperti biasa, urusan menahan kelopak mata, di jurusanku aku belum ada tandingannya. ah, bolehkah aku berbangga untuk ini saja?
kawanku meninggalkan kamar lebih dulu karena ada kelas pagi. kamar mandi dan air hangat memukauku seperti halnya niat baik. perlahan namun pasti...aku mulai meragukan titik berangkat dan pulang waktu. mungkin ini yang kalian sebut dengan dejavu. terkenang aku pada perjalanan-perjalanan yang lalu. perjalanan-perjalanan yang begitu membanggakanku. perjalanan-perjalanan yang menaruh sebagian dari penyesalanku. dari akhir pekan satu ke yang lainnya. dari satu stasiun ke stasiun lainnya. dari hotel ke hotel. seriang tan malaka, zonder dari penjara ke penjara.
sebab kamar-kamar itu membebaskanku...seperti kitab-kitab baru.
sketsa-sketsa yang keras kepala

Lho, kamare tambah akeh ta Pak?
ReplyDelete