frase itu bukan milikku. milik seorang kawan baik dan penulis idolaku: puthut e.a. aku lupa persis frasenya, tapi kira-kira begitu. frase itu selalu muncul di kepalaku setiap kali aku, karena satu dan lain hal, menggigil pada malam hari.
seperti dini hari ini, aku harus menerobos hujan untuk mengirim dokumen di warnet. demi kehidupan yang lebih baik. tidak kurang, tidak lebih. kebetulan akhir pekan ini aku tidur di rumah kakakku yang tidak ber-viva la speedy.
cuma lampu-lampu di jalan tol yang entah kenapa belum dibuka secara resmi sampai saat ini. air yang melompat-lompat genit. motor yang berkelok-kelok mengikuti tulang-tulangku yang tak setangguh dulu.
dokumen sudah terkirim dengan baik. namun aku masih enggan balik. kali ini aku harus mendengar lagu-lagu mandarin yang diputar penjaga warnet. tahukah kalian kekonyolan bisa berubah menjadi keindahan dalam sekian detik saja? cuma dibutuhkan kerjasama baju basah dan pendingin ruangan di titik 22.
halaman blog ini selalu kosong. untukku sendiri. seringkali kujenguk saat malam. tanpa berdarah-darah. seringkali berbasah-basah. dengan kesenduan yang semakin indah dengan jeritan.
"aku menjerit pada halaman-halaman malam yang kosong".
brrrr!
sketsa-sketsa yang keras kepala
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment