pengalaman baru bisa datang dalam bentuk apa saja. minggu lalu seorang mahasiswa menghubungiku untuk menjadi juri kontes miss-miss-an yang pertama kali diadakan di kampus. aku tak tahu persis kenapa panitia menghubungiku di antara sekian pekerja yang ada di kampus. yang jelas aku tak mengenal seorangpun dari mereka. tak satupun dari mereka adalah mahasiswaku. mungkin yang lain tak ada yang mau karena malu dan mereka mendapatkan informasi bahwa masih ada seseorang yang tak tahu malu...hahaha. mungkin juga mereka menganggapku punya kompetensi dalam menilai perempuan...hahaha. kata salah seorang the kererian, andai saja mereka tahu...hehehe.
aku mengiyakan permintaan panitia. sempat berfikir bahwa acaranya urung diadakan karena mereka tak segera memberiku job des yang jelas. tapi tepat satu hari sebelum acara mereka muncul kembali. ternyata aku diminta untuk menjadi juri uji pengetahuan umum, bukan sesi baju zirah atau gaun malam seperti yang aku duga...hahaha. mereka menawarkan untuk menjemputku...cie...tapi aku tolak sebelum sindrom donald trump menghinggapiku terlalu jauh. aku sudah cukup terhibur karena permintaan itu setelah didera evaluasi diri program studi sampai jum'at larut malam. karena itu aku bersedia bersepeda ria dari democratic people's republic of krian (dprk) sekaligus merelakan liburan sabtu pagiku. toh aku masih mempunyai sabtu sore dan malam untuk...ya begitulah....ngga ngapa-ngapain...hahaha.
peserta yang harus kuuji ada sepuluh orang. umumnya mereka pandai bersilat lidah tapi pengetahuan umumnya, seperti prasangkaku, cukup memprihatinkan. ah, mereka terlalu kaya untuk merasa perlu mengetahui hal-hal yang tak menguntungkan. ketika mereka tak bisa menjawab siapa menteri pemberdayaan perempuan, aku curiga bahwa mereka bahkan tak tahu siapa nama walikota surabaya, kecurigaanku ternyata benar. cuma ada satu yang bisa menjawab, itu pun terbalik. jadi walikotanya adalah arif affandi dan wakilnya adalah bambang d.h. padahal mereka tergolong mahasiswi-mahasiswi yang cerdas. ipknya semua di atas 3,2. jadi memang betul bahwa kecerdasan beda dengan pengetahuan. dan ipk, seperti biasa, adalah cuma satu dari sekian indikator.
malamnya aku bermimpi menjadi juri kontes ketampanan.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment