demikian kutulis pada malam-malam menjelang keberangkatanku menjemput didikan baru. kubuat beberapa omong kosong untuk kenang-kenangan bagi kawan-kawan pada didikan lama. seperti calon mayat, aku ingin diingat. tiba-tiba aku mendapatkan ide untuk menyebut setiap omong kosong itu sebagai 'peringatan'. dan ternyata aku tengah memperingatkan diriku sendiri untuk episode-episode yang dramatik.
hidup selalu mengajar dengan cara yang unik. jika dipikir dengan baik, harus kuakui tak ada cara lain yang lebih baik dan menarik dari yang kualami. semuanya tampak tertata sekarang. dibutuhkan keterpisahan dalam tingkatan tertentu untuk bisa mengagumi rancangan ini. bagi yang pernah melihat bumi dari udara akan mengerti maksudku dengan lebih mudah. semakin dekat kita, semakin kacau tampaknya. semakin jauh kita, semakin sempurna keindahannya.
bersyukur bahwa tugas dendamku ternyata di luar mutu, jika bukan tidak bermutu. terdapat keheranan dan keraguan diri saat pertama kali menemukannya. hanya untuk onggokan inikah segala keributan dan air mata? tapi pengetahuan akhirnya menjahitku dan mencegahku kembali pada kesesakan. lebih dari itu, pengetahuan telah memberiku salah satu hal yang paling diburu di bumi manusia. bukan hanya dua, tapi sebanyak yang mampu kukuasai. semenjak itu aku semakin mencintai proyek yang belum tuntas ini beserta segala keangkuhannya. seburuk apapun, belum ada yang lebih bisa dipercaya sebagai kawan. ini bukanlah pencerahan baru, tapi serasa pulang ke rumah saja.
malam pantasmagoria. malam ini aku digaruk tiga batu penjuru waktu. bukan menggaruk-garuk seperti yang kulakukan pada malam-malam penuh bunyi. seperti kata penggurat dari tangkuban perahu, ada yang memilih menjadi arus, ada yang memilih menjadi batu. aku pernah menjadi air yang berhenti. membusuk dan menyembah batu. apa yang lebih mengharukan dari menemukan diriku sendiri tengah berlari sekencang-kencangnya ke laut? tak ada yang bisa kubakar sebagai pengucapan syukur selain senyum penuh keharuan.
turutlah aku melihat air besar.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment