sketsa-sketsa yang keras kepala

5/07/2008

sabtu: nenek dan mas nanang

nenekku yang budiman berkata padaku bahwa beliau akan pergi ke rumah sepupuku sabtu depan. aku baru menyadari bahwa beliau sudah tinggal cukup lama di rumah kami. jika tidak salah hitung sudah lebih dari semester. mungkin ini yang paling lama sepanjang sejarah pondok air mancur. aku akan merindukan cerita-ceritanya saat menemaniku membuat catatan-catatan ini. cerita-cerita yang sama, cerita-cerita yang diulang ribuan kali, cerita-cerita yang kuhafal sampai jeda nafasnya, cerita-cerita yang sering kuselesaikan saat beliau sibuk mencari kata-kata.

jika kupikir-pikir, sebenarnya kita tengah melakukan hal yang sama. sama-sama ingin meninggalkan jejak untuk yang datang sesudahnya, sekecil dan sebodoh apapun itu. pasti berguna bagi mereka suatu saat. bedanya adalah aku diberi kelebihan melek huruf dan bisa memakai komputer sementara beliau hanya bisa menulis namanya saja setelah aku berikan kursus singkat dan berlatih sendiri dengan sobekan almanak dengan ketekunan yang mengerikan. namun seperti pak pram saat belum boleh menulis dan mendapat sumbangan mesin ketik, nenekku tak mau menyerah dan menghunus bahasa lisan. nek, jika pak pram pernah berkata "menulis adalah tugas nasional", aku ingin berkata bahwa bercerita adalah tugas seluruh umat manusia. dan nenek sudah melakukannya dengan luar biasa.

sabtu ini aku juga akan kehilangan sahabatku yang sudah menemaniku dengan setia sepanjang tahun-tahun yang mendebarkan. setelah kegagalan demi kegagalan, dia sudah melihat bayangan piramidnya di kalimantan. senang sekali berkesempatan meminjamkan sang alkemis yang menguatkannya jauh di luar yang kuduga. semoga dia seberuntung santiago sang gembala pejuang. beruntung sekali pernah berjalan berdampingan tangan dengan tangan dengannya dalam satu tikungan waktu. berganti memanggul ransel yang lain saat empunya terseok-seok kelelahan. pernah kutulis di sini: "yang satu tuna karya, yang lain tuna cinta"...hahaha. seperti yang baik, yang buruk pasti juga berakhir. berat tentu kehilangan kawan ngopi tiap malam. warna malamku sepanjang 3 tahun terakhir akan berubah mulai minggu depan. namun apa yang lebih menggembirakan dari melepas yang terkasih mendekap jerih-darahnya? selamat jalan, mas nanang. hidup sederhana, bekerja sekeras sang pemula.

No comments:

Post a Comment