Ada yang memberitahuku di depan wastafel untuk hidup hari ini. Sendok kopi di mug pagi ini akan menentukan liputan selimut siang. Ini tentu kau tahu. Tak sulit memahaminya. Namun bagaimana mungkin kaleng bir pagi ini menentukan parasetamol kemarin siang? Ada yang memberitahuku dekat jemuran. Jika aku berhasil pagi ini, kegagalan kemarin akan menjadi awal yg cocok bagi sebuah cerita kejayaan. Pun yang berlalu tak kebal dengan perubahan. Hanya dengan hidup hari ini, sayang.
***
Kuangkat tubuhku ke Amore untuk melakukan urusan purba ini dengan lebih baik. Susah payah kukendalikan motor pincang ini. Tiga kali sudah rawat inap di bengkel hanya untuk mengeluh kembali. Untuk pertama kali kupikirkan dia yang duduk di belakangku. Tak ada yang meremukkanku di jalan ini selain gigitan di bahuku. Mungkin jaket ini mengingatkanmu pada permen coklat. Mungkin kau terlalu lapar setelah percakapan-percakapan sebelumnya. Sementara hidup masih berkisar pada tanggal 27 setiap akhir bulan. Sementara aku hanya mampu membeli dua botol air mineral untuk busa-berbusa kita. Setengah untukmu, satu setengah untukku sendiri, tapi. Aku sudah lelah jadi borjuis kecil.
***
Dan untuk apa kita sore ini berebut kursi di pojok Amore? Untuk bercakap-cakap kembali. Demi semesta, sudah tiga tahun ini aku merasa demikian tua. Mungkin perasaan tuamu sedikit lebih muda. Satu persatu gigi mulai ditambal atau tanggal. Rambut perak sudah pelan-pelan bergeser ke tengah. Koloni jeruk bersimaharaja di muka, lengan, perut, dan paha. Dan debar-mendebarkan tak lagi menjadi kegiatan utama. Tak semudah dulu. Tak sekuat kapan hari. Tak semenarik tempo lalu. Ada yang mengingatku pada Satu dan Dua di drama haru Tennessee, yang tak mampu membayangkan esok hari, apalagi melewatinya. Meski tahu, mata segar itu selalu mempermainkan waktu maju. Mintalah buku menu dan kembalikan korek apiku.
Untuk dilanjutkan...
sketsa-sketsa yang keras kepala
7/08/2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment