siang ini ada kejutan yang menyenangkan di jalan. tak seperti biasanya, aku memutuskan pulang ke rumah sebelum akhir pekan berlalu. rindu bertemu kawanku yang lagi pulang kampung. sudah lama tak membenturkan cerita bersamanya di depan cangkir-cangkir kopi di warung cak to. terus terang sudah tak banyak lagi yang mengelemku dengan kampung halamanku. salah satu dari yang sedikit itu adalah kawanku ini. saat dia akhirnya merantau ke borneo, aku lebih sering menghabiskan waktuku di rumah kakakku. berusaha meneruskan pelajaran hidup di suburbia yang pertama kali kudapatkan di thailand dan tak kunjung kukukuasai sampai sekarang. aku selalu (dan mungkin suka) berada dalam dua dunia dengan segala ketidakjelasannya.
sampai di depan polsek balongbendo hujan menyambutku seperti pengantin. aku tertawa histeris di dalam helm. berapa lama? sudah berapa lama, kawan? tiba-tiba aku merasa perlu berhenti di sebelah jalan dan membiarkan diriku kehujanan. menghirup tanah basah. melihat diriku dengan terpejam. dan tiba-tiba semua yang baik kembali di kepalaku. yang indah tersenyum genit di mata pikiranku. yang lucu membuka gas di batang otakku. melihat diriku menggiring dan menendang bola di dekat kebun kelapa. melihat diriku terkena beling di sungai belakang rumah. melihat kawan remajaku yang telah tiada. melihat diriku bolos sekolah dan terdampar di sebuah kampung yang tak kukenal. melihat diriku mengendarai motor pertamaku di driyorejo. melihat yang tertanam dalam. melihat diriku yang belum paham dan bahagia.
hujan adalah nyonya indera dan, oleh sebab itu, penguasa kenangan.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment