sketsa-sketsa yang keras kepala

9/03/2008

next stop: vientiane

hidup ini cepat benar. tak terasa sudah memasuki paruh kedua tahun 2008. banyak yang harus dan ingin kulakukan dalam periode ini. yang harus kulakukan mungkin tak banyak berubah dari sebelumnya. aku hanya ingin melakukannya dengan lebih baik, tidak kurang dan mudah-mudahan lebih. sementara aku sudah bermimpi tentang pucuk tahun ini. demi keyakinan dan kenyataan...bahwa hidup ini cepat benar.

jika keadaan membaik, aku ingin mengunjungi vientiane di akhir tahun ini. aku ingin menemui seorang kawan pengangkat botol di rantau dulu. tak terhitung sudah berapa kali dia mengundangku, baik ketika kami sama-sama di rantau maupun kembali ke negeri masing-masing. tak terbilang berapa kali aku mengiyakannya saja dan menganggapnya basa-basi percakapan orang dari belahan dunia yang berbeda. minggu lalu aku tiba-tiba memikirkannya secara serius. dan undangan itu menjadi bermakna bagiku. ya, kenapa tidak?

sudah lama aku tak berpergian jauh. sudah rindu kegairahan memasukkan baju dan mengangkat ransel. apalagi kali ini vientiane, salah satu ibukota paling tidak populer di dunia atau bahkan di asean. jika orang lain mungkin membayangkan kejenuhan, aku justru sudah membayangkan kegembiraan klasik di depan. melihat ibukota stalinis yang masih tersisa. menyaksikan budaya indochina dalam bentuk terbaiknya. petualangan. cerita yang tak pernah di dengar orang. selain itu perjalanan ini kemungkinan akan menjadi perjalanan yang cukup murah. apakah yang akan kubeli di vientiane? apalagi kawanku tadi berkata: "belilah tiket pulang pergi, dan biarkan aku mengurus sisanya".

ah, apa kubilang? tak ada yang lebih memegang kesetiakawanan dibanding para pemabuk.

No comments:

Post a Comment