sketsa-sketsa yang keras kepala

10/19/2008

ode u/ bhoezoek (kedua)

okay, lanjut. tak ada hujan, tak ada angin, beberapa sore lalu persis sesudah mandi aku tiba-tiba amat sangat ingin menemui bhoezoek. aku bahkan tak merasa perlu untuk meneleponnya dulu. langsung saja kukeluarkan kuda hitamku (halah) dan memacunya ke jalan sidoarjo. cukup banyak perubahan sepanjang jalan ini. semakin banyak toko dan warung sepanjang jalan (ya, bapa, jika bukan bangsa manufaktur, jadikan kami setidaknya bangsa pedagang). sempat kulihat beberapa mini mart sepanjang jalan. sekarang juga sudah ada perumahan dekat stm krian.

bhoezoek tengah bermain gitar di teras rumah dengan dikelilingi beberapa remaja. ah, belum berubah juga kawanku ini. dari dulu kami suka membuat anak-anak tanggung terpana dengan beberapa permainan gitar canggih yang kami hafal di luar kepala. tapi ya cuma itu-itu saja. kalau giliran mengiringi lagu betulan, kami langsung tak berdaya. kami dulu suka mengolok-olok diri kami sendiri: kami ini bukan bermain gitar, tapi akrobat...hehehe.

dia kelihatan senang sekali waktu melihatku. seisi rumah dipanggilnya. perasaanku tak kalah gembiranya. tak lama kemudian aku sudah beramah-tamah dengan ibu dan istrinya. yang membuatku merasa begitu buruk adalah saat dia memperkenalkanku pada seorang gadis mungil. anaknya. aku bahkan tak tahu jika kawan baikku sudah mempunyai anak sebesar ini.

usai dengan ramah-tamah, bhoezoek langsung memberiku gitar dan kami meneruskan misinya membuat anak-anak remaja itu terpana. permainan yang sama. setelah anak-anak itu menutup mulutnya, bhoezoek membubarkan mereka. kami meneruskan pertemuan ini dengan pergi ke warung kopi tak jauh dari rumahnya. lha kok sama pemilik warungnya malah diberi gitar. mungkin sudah hafal dengan kebiasaan bhoeozoek. ya sudah. kami mengulangi akrobat kami sekali lagi. kali ini kami juga menyanyikan beberapa lagu yang kami suka dahulu. aku tak tega menuliskan judulnya di sini. tentang cinta-cinta gitulah.

di sela-sela lagu, kami berbicara tentang ini-itu. tentang pekerjaan kami, tentu saja. topik yang satu ini tak bisa tak muncul setelah selesai kuliah. dulu katanya sempat bekerja di perusahaan elpiji di semarang sebelum disingkirkan kawannya sendiri. bhoeozoek sekarang tengah menekuni bisnis plastik di tropodo. setelah pekerjaan, topik bergeser ke kawan-kawan lama kami. si ini sekarang di sini. si ana sekarang di sana. si ini sudah nikah dengan si anu. si ani sudah cerai dengan si ina. seperti biasa, aku jadi ingat kalau aku sudah cukup berumur...hehehe. hidup tak tahu diri!

setelah itu bhoezoek mulai membawa kami ke topik yang menarik: perjalanan spiritual. jauh dari sangkaan beberapa kawan, sebenarnya aku suka sekali mendengar dan berbicara tentang spiritualitas. mungkin sulit dipercaya juga jika aku katakan bahwa sejak 2-3 tahun yang lalu aku cukup tertarik mempelajari tentang hal ini. tak ada yang gawat darinya jika kita melihatnya sebagai bagian integral dari kemanusiaan kita. wajar sekali. bikin hidup lebih hidup gitulah. okay, back to bhooezoek, dia bercerita tentang pertemuannya dengan seorang kyai eksentrik. sebelum bekerja di semarang, dia sempat mengikuti sang kyai berkeliling nusantara. soal ajarannya, aku tak begitu menangkap penjelasan bhoezoek. mungkin terlalu tinggi untuk aku.

aku pulang tepat pukul 10 malam. seperti dulu juga.

No comments:

Post a Comment