sketsa-sketsa yang keras kepala

10/17/2008

ode u/ bhoezoek (pertama)

cukup jarang aku bercerita di sini tentang orang-orang baik yang karena satu dan lain hal pernah dan tengah menjadi bagian dari hidupku yang hebat...halah...hehe. yang jelas ini dikarenakan aku lebih suka melihat ke dalam (baca: narsis dan self-pitiying dalam paduan yang menarik) dibanding ke luar. kemungkinan yang lain adalah saat aku mulai melakukan kegiatan tidak penting seperti blogging ini sudah tak banyak lagi orang-orang dekat di sekitarku. tambah umur, tambah susah berkawan dengan brutal dan membabibuta. ah, zaman itu...

salah satu dari begitu banyak kawanku dari zaman yang baik adalah bhoezoek. ya, busuk. dengan bangga kuberitahukan bahwa aku lah yang memberikan nama yang cukup melegenda di sma dan krian pada umumnya. nama itu sendiri adalah semacam penghormatan terhadap bau kaki kawan baikku ini. bukannya tersinggung, bhoezoek malah mengadopsi nama ini secara resmi sehingga hampir-hampir sudah tak ada lagi yang mengingat nama aslinya kecuali ibu dan bapaknya.

dengan bhoezoek lah aku menghabiskan sebagian besar masa sma-ku dulu baik di sekolah maupun di rumah. bhoezoek lah yang selalu menemaniku setiap kali aku keluar rumah untuk meredam adrenalinku yang kelewat tinggi. bhoezoek juga yang selalu menemaniku setiap bolos les atau sekolah dan memilih berceramah di warung kopi. bhoezoek juga yang menemaniku waktu apel pertama kali hehe. bhoezoek juga yang selalu menemaniku kalau aku tak bisa apel karena sesuatu dan lain hal. seringkali aku mempersingkat waktu apel supaya aku bisa mengajak bhoezoek ngopi...hehe. tak terhitung berapa kali bhoezoek tidur di rumahku. bhoeozoek juga yang mengimbangi kecintaanku kepada musik. tapi bhoezoek juga yang mendampingi kepayahanku dalam hal bakat bermusik hehe.

saat masa sma lewat, kami meneruskan di kampus yang berbeda. kami masih sering menghabiskan waktu bersama-sama meskipun sudah tak sekerap masa sma. kami mulai jarang bertemu lagi di akhir kuliah. aku tak ingat persis karena apa. mungkin karena aku sudah mulai congkak dan sudah larut dalam pergaulan urban dengan segala gegap-gempitanya. mungkin juga bhoezoek juga sudah menemukan keasyikan tersendiri dengan kawan-kawan barunya.

hubungan kami putus sama sekali saat aku mencari masalah di negeri budha (perhatikan ironinya). namun menurut laporan mama, bhoezoek tak pernah lupa berkunjung ke rumah setiap lebaran meskipun aku tak ada di rumah. ini yang membuatku malu. terus terang aku hampir-hampir tak pernah mengingatnya lagi. ini terus berlanjut saat aku sudah kembali dan mulai bekerja. kalaupun bertemu di warung kopi aku hanya sekedar mengakui keberadaannya. tak pernah lebih dari itu. terakhir aku bertemu dengannya adalah saat dia menikah. jika aku masih mengingat ini, itu bukan karena aku memang betul-betul memperhatikannya. kebetulan malam itu aku baru pulang ngapel ke salah satu orang yang paling rupawan di surabaya. jadi aku mau tak mau pasti ingat malam itu hahaha. aku bisa memberikan sembilan ratus sembilan puluh sembilan alasan. kenyataannya aku melupakan orang baik ini dan justru memperhatikan mereka yg tidak baik. bumi manusia. jagad pramudita. jagad dewa batara.

(bersambung)

No comments:

Post a Comment