sketsa-sketsa yang keras kepala

1/18/2009

pie,

kita bermufakat saat aku tengah jemu dengan puisi, prosa, dan drama. aku tahu kegemaranmu pada ironi. jadi anggaplah ini sebagai semacam dokumen. aku belum menentukan dengan cermat apakah ini kabar baik atau buruk bagimu. dan aku juga tak akan meminta maaf seperti yang lazim kulakukan di zaman-zaman yang lebih gelap. tentu saja ini karena aku juga tengah bosan meminta maaf. tapi paling tidak kamu tahu ini, dan ini bisa menyelesaikan beberapa pertanyaan yang mungkin melompat di saat mengaso.

demikian juga aku tak pernah mengajakmu berkendara mencari hujan, seperti dengan mereka yang berhati mulia. jika aku pernah menyesal dan khawatir, itu hanya ketika aku merasa membuat mereka terkena pilek dibanding bermain-main dengan hati-hati mulia. aku selalu bertaruh dengan sekeras-kerasnya atau tidak sama sekali. andai saja aku adalah petaruh yang bijaksana, tentu aku sudah bisa menghias diriku seklimis raja salomo di hari-hari tuanya. tentang remeh-temeh dan keributan di luar, aku cuma bisa mengatakan kehidupan tengah melukai mereka, dan mereka tengah berjuang untuk melewatinya. untuk ini kamu harus banyak maklum dan berdoa.

dan, lihatlah, kali ini hujan yang mencari kita. hujan menderu-deru seperti kekasih yang pencemburu. namun serahkan masalah ini pada lebar badan, baik harafiah maupun kiasan. aku akan menghalanginya seperti bukit. aku akan membuatmu sekering kulit ayam sang kolonel. dan betapa beda dirimu. betapa nyalangnya. betapa sederhananya kita. jika ada yang menjahitmu dengan yang sudah-sudah, aku sekedar bisa menjelaskan bahwa aku sering tumbuh di masa-masa basah.

No comments:

Post a Comment