Aku lahir sebagai pemimpi profesional. Gemar sekali membuat rencana-rencana. Dan, paling tidak untuk satu tahun terakhir, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Ada masa di mana aku meragukan mimpi-mimpiku, seperti tahun lalu. Namun sampai juga masa di mana aku mampu melihat hanya sekian dari jutaan mimpiku yang tak tercapai. Sampai juga kesadaran bahwa aku hanya gagal saat aku kehilangan fokus dan terlalu banyak bicara. Jika aku harus membayar kesadaran itu dengan salah satu mimpi terbesar yang pernah kumiliki, aku tak menyesal dan tak akan pernah.
Hari-hari ini aku melakukan kembali pekerjaan yang tak pernah benar-benar bisa kutinggalkan itu. Dengan semangat dan cara baru, tentu. Tadi malam aku bercerita pada salah satu kawan baikku tentang mimpiku yang terbaru. Menyenangkan sekali rasanya. Sudah cukup lama aku tak membagi mimpiku dengan orang lain sejak kepergian Arun Meni. Sebenarnya aku tak begitu sering membagi mimpiku dengannya. Tak banyak kesempatan. Arun Meni suka sekali berbicara, termasuk membicarakan mimpi-mimpinya. Dengan Arun Meni aku lebih sering mendengar, ketrampilan yang baru kupelajari.
Mendengarkan mimpi orang lain tak kalah mengasyikkan dengan bermimpi sendiri. Pada awalnya tentu untuk tujuan yang cukup egois. Dengan mendengarkan mimpi orang lain, aku bisa mendapatkan penegasan (bahwa mimpiku lebih superior) atau umpan balik (bahwa mimpiku lebih inferior). Kadang-kadang masalahnya bukan mewujudkan mimpi, seperti yang sering dipikirkan, tapi kualitas mimpi itu sendiri. Seringkali setelah mewujudkan suatu mimpi, aku merasa bahwa aku sebenarnya bisa bermimpi lebih baik dari ini. Jadi ini cukup bagus meskipun akan segera dilalui.
Sebab pada akhirnya aku merasa bahwa aku tak bisa membandingkan mimpiku dengan orang lain. Pak Sartre mengatakan bahwa setiap orang menentukan atau paling tidak mendapatkan makna keberadaannya di dunia yang kosong ini. Dan mereka hanya akan mengerjakan apa yang mereka anggap bermakna, bukan yang mereka anggap rasional (sebagai alat dan ukuran universal). Dengan demikian superioritas dan inferioritas tidak bisa diukur dengan membandingkan mimpiku dengan orang lain, tapi dengan membandingkannya dengan makna hidup yang kupercayai. Semakin relevan dengan makna itu, semakin baik mimpi itu.
Lalu apa yang tersisa untuk kureguk dari mimpi kawanku, Arun Meni dan orang-orang lain? Pameran semangat yang menggairahkan. Contoh kehendak-kehendak berkuasa yang menyegarkan.
Demikian sabda Dewey Setiawan.
sketsa-sketsa yang keras kepala

No comments:
Post a Comment