sketsa-sketsa yang keras kepala

9/23/2008

keluar rumah

akhir-akhir ini rasanya banyak orang yang suka keluar rumah. jalanan lebih ramai dari biasanya. seperti tadi pagi yang menyiksa. kemacetan sudah menghadangku di bypass krian. tak biasanya di jam-jam keberangkatanku yang cukup memalukan bagi bangsa indonesia di zaman kapitalisme tak jelas dan membanggakan bagi bangsa romawi di zaman kepemilikan budak. sudah begitu truk dan bus besar tak mau bersabar, membanting setir ke kiri, turun dari badan jalan, dan mengambil hak istimewa satu-satunya yang masih kami, para pengendara motor, miliki. kebetulan di by pass masih banyak tanah yang mirip-mirip no man's land di zaman perang dunia pertama dan karenanya tak pernah ada yang menyirami. kami seperti ditenggelamkan lautan debu. kebetulan lagi aku menggunakan jaketku yang paling baik. jaketku yang paling kedap udara. aku basah kuyup sendiri di dalamnya.

minggu lalu pada suatu sore aku dan sugar mill menyentuh beberapa titik surabaya yang jarang kami kunjungi. kalian yang mengenalku dengan cukup baik mungkin sudah tahu betapa payahnya aku soal arah. 5-10 kali kunjungan belum tentu membuatku hafal dengan suatu daerah. satu-satunya hal yang masih membuatku gembira dengan cacat mental ini adalah kenyataan bahwa idolaku lev davidovich juga memilikinya. dia sendiri menyebutnya dengan nama yang kedengarannya keren tapi menyakitkan: "topographically imbecile". keadaan si sugar mill tak lebih baik dariku. itu masih diperparah dengan helmku yang suka nutup-nutup sendiri kacanya padahal waktu itu hari sudah gelap. walhasil kami sempat kesasar dan kebablasan dan berhenti untuk bertanya beberapa kali. kecapaian, kami memutuskan untuk mencari makan dan minum kopi dalam perjalanan pulang. seperti biasa yang muncul di otakku yang murahan ini adalah cinema cafe. jadilah kami pergi ke royal untuk menemukan bahwa tak ada tempat parkir lagi bagi kami. lalu kami memutuskan untuk pindah ke marina hanya untuk menemukan hal yang sama. bahkan ketika kami mendapatkan sebuah sudut di pizza hut jemur suasananya ramai luar biasa.

aku berharap bahwa ini semua tanda baik. aku berharap ini adalah tanda bahwa perekonomian semakin meningkat dan rakyat jadi punya kemampuan untuk jalan-jalan dan berbelanja. tapi seperti biasanya aku selalu memelihara keraguan untuk beberapa tingkatan. jangan-jangan perekonomian sedang memburuk dan rakyat begitu setresnya sampai memutuskan untuk keluar rumah daripada jadi gila. aku sendiri belum memutuskan berada di yang mana.

No comments:

Post a Comment